
SURABAYA, 29 MARET 2026 – VNNMedia – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP tahun 2026 akan digelar berbasis komputer dengan skema bertahap. Sistem ini dirancang untuk menyesuaikan ketersediaan perangkat di sekolah sekaligus menjamin keadilan, transparansi, dan akurasi hasil ujian.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa TKA merupakan mandat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai instrumen untuk mengukur capaian akademik siswa.
“TKA ini bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan akademik siswa secara lebih komprehensif,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan TKA tidak lagi dilakukan serentak dalam satu hari seperti ujian konvensional. Ujian dibagi dalam beberapa gelombang dan sesi sesuai kapasitas perangkat di masing-masing sekolah. Dalam praktiknya, satu komputer dapat digunakan bergantian oleh beberapa siswa, dengan setiap sesi menggunakan paket soal yang berbeda.
Menurut Febrina, skema ini tetap menjamin keadilan bagi seluruh peserta karena setiap sesi memiliki tingkat kesulitan yang setara.
Pelaksanaan TKA di Surabaya melibatkan puluhan ribu siswa.
Pada jenjang SD, tercatat 642 satuan pendidikan dengan total 35.602 peserta, terdiri dari 20.849 siswa sekolah negeri dan 14.753 siswa swasta. Sementara di jenjang SMP, terdapat 321 satuan pendidikan dengan total 34.381 peserta, yang terdiri dari 16.908 siswa negeri dan 17.473 siswa swasta.
Dalam pelaksanaannya, TKA mengadopsi berbagai moda, mulai dari full online hingga semi online. Sistem ini juga dilengkapi opsi token online maupun offline guna mengantisipasi kendala jaringan. Untuk menjamin inklusivitas, siswa dengan disabilitas netra difasilitasi menggunakan screen reader.
Dari sisi materi, TKA berfokus pada penguatan literasi dan numerasi, dengan mata uji Matematika dan Bahasa Indonesia. Soal dirancang berbasis penalaran dan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan. “Yang diukur adalah kemampuan analitik dan logika siswa dalam memahami persoalan,” jelasnya.
Adapun jadwal pelaksanaan TKA jenjang SMP berlangsung pada 6–16 April 2026, sedangkan jenjang SD pada 20–30 April 2026. Ujian dilakukan dalam beberapa gelombang, dengan setiap sesi mencakup latihan, ujian utama, serta survei karakter.
Sebelumnya, tahapan pelaksanaan telah dimulai sejak pendaftaran pada 19 Januari hingga 28 Februari 2026, dilanjutkan simulasi pada Februari hingga awal Maret, serta gladi pada pertengahan Maret. Di tingkat sekolah, penguatan kesiapan siswa juga dilakukan melalui try out berkala yang disertai analisis hasil.
Pemkot Surabaya turut memastikan kesiapan infrastruktur, mulai dari perangkat komputer, jaringan internet, hingga pasokan listrik. Koordinasi lintas sektor dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi, penyedia layanan telekomunikasi, serta Perusahaan Listrik Negara.
Selain itu, pengawasan diperketat melalui mekanisme pengawas silang antar sekolah serta pemantauan terpusat untuk menjaga integritas pelaksanaan ujian.
Meski tidak bersifat wajib, Dispendik Surabaya tetap mendorong siswa mengikuti TKA sebagai sarana evaluasi diri. Hasilnya juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pertimbangan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di sisi lain, aspek psikologis siswa menjadi perhatian. Sekolah diminta menciptakan suasana belajar yang kondusif agar TKA tidak dipersepsikan sebagai beban. “TKA jangan menjadi ketakutan. Harus dibuat nyaman dan menyenangkan agar siswa siap secara mental,” tegasnya.
Ke depan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat evaluasi, tetapi juga menjadi pijakan dalam memperbaiki sistem pembelajaran secara menyeluruh. Dengan pendekatan berbasis analitik dan logika, hasil TKA diyakini mampu memberikan gambaran lebih akurat tentang kualitas pendidikan sekaligus menjadi dasar kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News