Solo Travel Jadi Tren, Kebebasan dan Fleksibilitas Jadi Alasan

JAKARTA, 20 AGUSTUS 2025 – VNNMedia – Solo travel tengah menjadi tren di kalangan anak muda. Hal ini terungkap dalam survei yang dilaksanakan oleh Scoot dan didukung YouGov terhadap lebih dari 5.000 responden di lima negara di kawasan Asia-Pasifik (APAC). Termasuk lebih dari 1.000 responden dari Indonesia.

Scoot merupakan maskapai penerbangan bertarif rendah yang merupakan anak perusahaan Singapore Airlines (SIA).

Kini solo travel semakin menjadi gaya hidup umum bagi wisatawan Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Hampir tujuh dari 10 orang Indonesia (68% responden dari Indonesia) telah melakukan solo travel dalam setahun terakhir. Mayoritas responden (92%) berencana melakukannya dalam 12 bulan ke depan.

Kelompok milenial berada di garis depan perubahan ini, dengan proporsi 41% dari para wisatawan solo travel saat ini maupun yang berencana melakukan solo travel. Sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata negara di kawasan Asia-Pasifik (40%).

Solo travel sangat direkomendasikan oleh mereka yang telah mencobanya. Di Indonesia, 94% responden menyatakan akan merekomendasikan solo travel kepada orang lain.

Tren ini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup yang lebih luas. Mulai dari meningkatnya tekanan dalam pekerjaan dan di rumah, hingga semakin besarnya perhatian terhadap kesejahteraan pribadi.

Sebanyak 49% para wisatawan solo travel dari Indonesia menyebut kebebasan dan fleksibilitas dalam menyusun rencana perjalanan sebagai motivasi utama mereka. Sementara 46% responden berpandangan bahwa solo travel merupakan kesempatan untuk beristirahat dan fokus pada diri sendiri.

Sebanyak 43% responden juga mengapresiasi kemandirian dalam menjelajah tempat-tempat baru sesuai ritme mereka sendiri.

Kecenderungan ini mencerminkan tren perilaku terkini dalam masyarakat Indonesia yang sangat terhubung dan bergerak cepat. Bagi banyak orang di Indonesia, solo travel menjadi cara yang ampuh untuk melepaskan diri dari kesibukan, terhubung kembali dengan diri mereka sendiri, dan memprioritaskan kesehatan mental.

“Walaupun hasil survei ini tidak menggambarkan berkurangnya minat terhadap wisata kelompok atau keluarga, cara kita bepergian kini mencerminkan ekspresi individualitas dan memungkinkan proses penemuan diri,” ujar Agatha Yap, Director of Marketing, Communications & Loyalty, Scoot.

Mereka sangat mengandalkan agensi-agensi perjalanan daring (OTA) untuk membantu mereka mengambil keputusan terkait penerbangan, akomodasi, dan transportasi darat. Untuk rekomendasi kuliner dan aktivitas, media sosial menjadi kanal utama pencarian.

Selain destinasi dalam negeri, survei ini juga mengungkap bahwa Jepang (42%), Singapura (26%), Korea Selatan (21%), dan Australia (21%) dianggap sebagai destinasi internasional teratas pilihan solo travel tahun depan.

Pilihan ini mencerminkan minat terhadap budaya yang dinamis, pelarian ke alam, dan kenyamanan yang familiar. Ini tergambar dalam jenis solo travel paling populer yaitu retret alam (43%), liburan pantai (42%), pengalaman budaya dan sejarah (41%), serta city breaks (liburan singkat untuk menjelajahi kota) (39%), dan wisata belanja (39%).

Mayoritas wisatawan solo travel (43%) lebih suka melakukan perjalanan antara empat hingga tujuh hari.

Sebagian besar wisatawan solo travel berada dalam kisaran pengeluaran kelas menengah. Antara USD201 (sekitar Rp 3,4 juta) hingga USD999 (sekitar Rp 16,4 juta) per kategori perjalanan. Mencakup tiket penerbangan, akomodasi, dan makanan.

Untuk berpergian destinasi wisata, responden dari Indonesia terus memprioritaskan opsi perjalanan udara yang terjangkau. Lebih dari setengah responden (53%) memilih kelas ekonomi dan satu dari lima responden (22%) memilih maskapai penerbangan berbiaya rendah.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News