
SURABAYA, 24 JANUARI 2026 – VNNMedia – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendampingi Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Bima Arya Sugiarto meninjau Rumah Pompa Darmo Kali, Kamis (22/1/2026). Kunjungan ini menjadi momentum apresiasi atas sistem pengendalian banjir Surabaya yang dinilai berhasil menekan genangan, khususnya di kawasan pusat kota.
Wamendagri Bima Arya menegaskan bahwa tantangan cuaca ekstrem yang dihadapi pemerintah daerah saat ini tidak cukup diantisipasi dengan kesiapsiagaan semata, tetapi membutuhkan inovasi dan terobosan nyata.
“Hari ini pemerintah daerah dituntut bukan hanya siaga, tetapi juga inovatif menghadapi potensi banjir. Saya mendengar Surabaya memiliki sistem pompa air yang efektif, sehingga di pusat kota hampir tidak ada lagi genangan,” ujar Bima Arya.
Ia mengaku secara khusus meminta waktu kepada Wali Kota Surabaya untuk mempelajari lebih dalam sistem pompa dan drainase yang diterapkan.
Menurutnya, praktik baik Surabaya berpotensi menjadi rujukan nasional, karena penanganan banjir harus dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.
Bima Arya juga menyinggung upaya rekayasa cuaca yang saat ini diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Meski dinilai efektif, metode tersebut membutuhkan biaya besar dan lebih relevan di tingkat provinsi.
Karena itu, pemerintah kota dan kabupaten dinilai perlu mengembangkan solusi yang lebih berkelanjutan. “Sistem pompa air Surabaya yang terintegrasi dengan mechanical screen untuk pengelolaan sampah ini menarik untuk dikaji. Apakah bisa direplikasi atau disesuaikan dengan karakter daerah lain,” jelasnya.
Ke depan, Kementerian Dalam Negeri akan mengkaji lebih lanjut aspek teknologi, skema penerapan, hingga mekanisme pengembangan sistem tersebut agar dapat diadopsi secara lebih luas oleh daerah rawan banjir.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa ketertarikan Wamendagri muncul karena perubahan signifikan di sejumlah titik yang sebelumnya dikenal sebagai langganan banjir.
Ia menyebut kawasan Jalan Ahmad Yani depan RS Islam, Monumen Bambu Runcing, Jalan Kayoon, depan Gedung Grahadi, hingga sekitar Patung Joko Dolog, kini tidak lagi tergenang meski hujan deras turun berulang kali.
“Beliau heran, hujan deras berkali-kali tapi pusat kota tidak ada genangan. Itu hasil sistem pompa dan drainase yang dibangun serta dijalankan secara terintegrasi,” kata Eri.
Eri menambahkan, upaya pengendalian banjir di Surabaya masih terus berjalan. Sejumlah wilayah seperti Ketintang, Gayungan, dan Margorejo masih dalam tahap penyempurnaan. Bahkan kawasan Dukuh Kupang, yang lebih dari 50 tahun dikenal rawan banjir, kini telah terbebas dari genangan.
“Dukuh Kupang sekarang tidak banjir sama sekali. Dulu airnya bisa sampai leher. Ini yang membuat Pak Wamen tertarik dan ingin melihat langsung,” ungkapnya.
Meski demikian, Eri mengakui masih ada beberapa titik yang perlu penanganan lanjutan, seperti kawasan Simo dan sekitar SMA Negeri 14 Surabaya, yang mulai ditangani pada 2026.
Menurutnya, karakter wilayah tersebut memiliki kontur serupa dengan Dukuh Kupang sehingga membutuhkan penanganan bertahap dan hati-hati.
“Penanganan banjir itu proses jangka panjang. Kalau dibuka tanpa kontrol, wilayah di bawahnya bisa terdampak,” jelasnya.
Eri menegaskan, pertemuan tersebut membuka sinyal positif agar sistem pengendalian banjir Surabaya dapat diadopsi daerah lain. Dengan kondisi geografis dan iklim yang ada, pembangunan pompa dan long storage dinilai menjadi solusi utama.
“Kalau tidak dibangun pompa dan long storage, masalah banjir tidak akan pernah selesai. Ini ikhtiar yang harus terus dilakukan,” pungkasnya.
Foto : Ist
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News