
JAKARTA, 10 MARET 2026 – VNNMedia – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) bersama anak usahanya, PT Semen Tonasa, memperkuat upaya pelestarian lingkungan dan budaya dengan menjaga kawasan Gua Bulu Sipong 4 di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Langkah ini tidak hanya melindungi situs arkeologi penting dunia, tetapi juga meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Gua Bulu Sipong 4 dikenal sebagai lokasi lukisan cadas tertua di dunia yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun. Lukisan prasejarah di dinding gua tersebut menggambarkan adegan perburuan manusia purba dan menjadi salah satu bukti penting perkembangan peradaban manusia awal.
Situs cagar budaya ini berada di area tambang tanah liat milik Semen Tonasa di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Gua tersebut pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016 dan kemudian diteliti lebih lanjut melalui uji penanggalan lukisan cadas.
Sebagai bentuk perlindungan, Semen Tonasa atas rekomendasi SIG menetapkan kawasan Bukit Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau sekitar 11,3 persen dari area tambang sebagai kawasan konservasi.
Perusahaan juga meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong pada 2018 untuk menjaga ekosistem sekaligus melindungi situs purbakala tersebut.
Upaya konservasi ini semakin kuat setelah kawasan Bulu Sipong yang menjadi bagian dari Geopark Maros-Pangkep resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark pada 2023.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan penetapan kawasan konservasi ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan dengan menyeimbangkan aktivitas industri dan pelestarian lingkungan serta warisan budaya.
Menurutnya, kawasan Bulu Sipong juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal sejarah dan budaya peradaban manusia.
Dalam pengelolaannya, SIG bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin untuk menyusun Cultural Heritage Management Plan sebagai panduan pengelolaan situs prasejarah secara berkelanjutan.
Sementara itu, Semen Tonasa juga berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX untuk memantau getaran dan kualitas udara di sekitar kawasan. Berbagai langkah mitigasi turut dilakukan, seperti pengecoran jalan tambang sepanjang 1,8 kilometer, penyiraman jalan untuk mengurangi debu, pemasangan pagar
pembatas sepanjang 1,9 kilometer, serta revegetasi di area konservasi.
Selain melindungi situs arkeologi, kawasan Taman Kehati Bulu Sipong juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Hingga 2025 tercatat terdapat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, termasuk tanaman endemik seperti eboni, kayu kuku, dan bitti.
Kawasan ini juga menjadi rumah bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, dua jenis primata, satu jenis unggas, dan satu jenis reptil dengan total populasi mencapai 869 ekor. Di antaranya terdapat monyet dare (Macaca maura) dan tarsius, primata endemik Sulawesi yang dilindungi.
SIG juga mencatat peningkatan indeks keanekaragaman hayati (Kehati) di kawasan tersebut. Pada 2025, indeks flora mencapai 1,54 dari sebelumnya 1,38 pada 2020, sementara indeks fauna meningkat menjadi 2,85 dari 2,51.
Menurut Vita, peningkatan indeks tersebut menunjukkan kondisi ekosistem di kawasan Bulu Sipong semakin terjaga dan berfungsi sebagai benteng pelindung bagi lingkungan sekaligus warisan arkeologi.
“Atas inisiatif ini, SIG dan Semen Tonasa juga diundang sebagai narasumber dalam berbagai forum internasional untuk memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong dan pengelolaan keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News