
Jakarta, Rabu 25 Februari 2026-VNNMedia- Pengembang Indonesia diharapkan bisa melantai di bursa sebagai alternatif untuk mendapatkan modal kerja, tidak hanya mengandalkan pembiayaan konvensional dari lembaga keuangan atau perbankan
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar, yang mengaku tengah mendorong anggotanya untuk melakukan Initial Public Offering (IPO)
“Industri properti memiliki siklus proyek yang panjang dan kebutuhan modal kerja yang besar. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, ketergantungan pada pembiayaan perbankan saja tidak lagi cukup untuk menopang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Arvin dalam kegiatan Go Public Workshop, kerjasama DPD REI DKI Jakarta dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, hari Senin (23/2)
“Kami memahami masih ada keraguan di kalangan pengembang, terutama skala menengah, karena proses go public dipersepsikan kompleks dan butuh kesiapan tata kelola serta transparansi yang tinggi. Padahal akses itu sebenarnya terbuka,” tambahnya
Sejalan dengan REI, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) sebelumnya juga mengharapkan lebih banyak lagi pengembang di Indonesia melakukan IPO. “Kami juga bahas terkait pasar modal, sehingga nanti bagaimana pembiayaan itu tidak harus dari perbankan. Sehingga nanti para pengembang juga punya pilihan,” jelasnya
Mengutip indutriproperti.com, data BEI menunjukkan saat ini terdapat 956 perusahaan tercatat saham dan 131 penerbit obligasi. Dari jumlah tersebut, 92 emiten berasal dari sektor properti dan realestat
“Potensinya masih sangat besar. Banyak pengembang memiliki kapasitas untuk scale up. Namun terkendala akses pembiayaan. Di sini pasar modal dapat berperan sebagai katalis,” ujar Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News