
Teheran, Senin 09 Maret 2026-VNNMedia- Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Masyhad sebagai putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat berpengaruh dan sejak usia muda telah dipersiapkan untuk memahami struktur kekuasaan serta teologi di Iran
Pendidikan agamanya dimulai dengan belajar di bawah bimbingan ayahnya sendiri, kemudian ia melanjutkan studi tingkat lanjut di seminari Qom. Di sana, ia belajar dari ulama-ulama besar seperti Ayatollah Mesbah Yazdi dan Ayatollah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi. Pendidikan ini memberinya legitimasi religius yang diperlukan dalam struktur kepemimpinan teokrasi Iran
Karir politiknya berkembang di balik layar tanpa memegang jabatan publik yang resmi dalam waktu lama. Ia dikenal memiliki pengaruh besar dalam kantor Pemimpin Tertinggi atau Bait Rahbari, di mana ia mengelola urusan strategis dan menjalin hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam
Perannya semakin terlihat menonjol saat ia terlibat dalam pengelolaan dinamika politik internal Iran, termasuk dukungan terhadap faksi konservatif dalam berbagai pemilihan umum
Dalam kehidupan pribadi, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politisi senior dan mantan Ketua Parlemen Iran. Pernikahan ini semakin memperkuat posisinya di lingkaran elit politik negara
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dari sorotan media massa namun memiliki jalinan kesetiaan yang kuat di kalangan militer dan intelijen
Proses pengangkatannya menjadi Pemimpin Tertinggi terjadi melalui keputusan Majelis Ahli setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan ini menandai suksesi bersejarah yang memperkuat garis keturunan keluarga Khamenei dalam kepemimpinan tertinggi Iran
Dukungan militer dari IRGC memberikan kepastian bahwa pergantian kepemimpinan akan berlangsung mulus, di tengah ancaman Trump yang ingin mendikte siapa sosok yang layak menduduki jabatan tertinggi di Teheran
Trump berpendapat bahwa kepemimpinan Iran tidak akan memiliki masa depan yang panjang jika mengabaikan restu Amerika Serikat. Keputusan untuk menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru diyakini akan semakin memperkeruh hubungan dengan Trump
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News