Produksi Nikel Melonjak, MBMA Cetak Pendapatan USD 1,4 Miliar di 2025

JAKARTA, 18 FEBRUARI 2026 – VNNMedia – Di tengah tekanan harga nikel dunia, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) justru menutup tahun 2025 dengan kinerja operasional dan finansial yang solid. Sepanjang tahun, emiten berkode saham MBMA ini membukukan pendapatan tidak diaudit sekitar USD 1,4 miliar, didorong lonjakan volume produksi, efisiensi biaya, serta percepatan integrasi hilir di seluruh rantai nilai nikel.

Direktur Utama MBMA Teddy Oetomo mengatakan, pertumbuhan signifikan terutama datang dari kinerja operasional tambang.

Tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencatat produksi 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) saprolit atau tumbuh 42 persen secara tahunan, serta 14,7 juta wmt limonit yang melonjak 45 persen dibandingkan 2024.

Kinerja tersebut ditopang ekspansi armada tambang, optimalisasi sistem logistik, dan peningkatan efisiensi proses penambangan. Meski dihadapkan pada kenaikan royalti dan biaya bahan bakar seiring penerapan kebijakan B40, Perseroan mampu menjaga struktur biaya tetap kompetitif berkat skala produksi yang semakin besar.

Operasi limonit pun tetap menghasilkan margin stabil, mencerminkan efisiensi operasional yang konsisten.

Di segmen pengolahan, produksi Nickel Pig Iron (NPI) sepanjang 2025 mencapai 73.871 ton nikel, sesuai dengan panduan tahunan. Margin NPI tercatat meningkat secara tahunan, ditopang penurunan biaya produksi dan pasokan bijih internal yang lebih kuat.

Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) kembali berjalan sejak Oktober 2025 setelah MBMA mengamankan kontrak offtake yang dinilai ekonomis. Sepanjang tahun, produksi HGNM mencapai 19.998 ton dengan pemulihan margin yang signifikan, meski volumenya masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Akselerasi hilirisasi juga terus dilakukan. PT ESG New Energy Material berhasil memproduksi 7.177 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada Kuartal IV 2025, seiring mulai beroperasinya Feed Preparation Plant dan pipa slurry dari tambang SCM.

Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah mencapai progres 83 persen, dengan commissioning jalur produksi pertama ditargetkan pada paruh kedua 2026. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas hingga 90.000 ton MHP per tahun.

Operasi di pabrik AIM yang dikelola PT Merdeka Tsingshan Indonesia juga berjalan stabil. Proses commissioning fasilitas klorida dan pabrik katoda tembaga terus berlanjut, dengan produksi 321 ton pelat katoda tembaga berkualitas standar London Metal Exchange (LME).

Memasuki 2026, MBMA optimistis melanjutkan tren pertumbuhan. Perseroan menargetkan pengiriman bijih saprolit sebesar 8–10 juta wmt dan penjualan bijih limonit 20–25 juta wmt, bergantung pada persetujuan RKAB.

Target lainnya meliputi produksi NPI 70.000–80.000 ton, HGNM 44.000–48.000 ton, serta produksi MHP dari PT ESG sebesar 27.000–30.000 ton.

Dari sisi keberlanjutan, sepanjang 2025 MBMA terus memperkuat kinerja ESG melalui peningkatan keselamatan kerja, efisiensi energi dan air, pengurangan emisi, pengembangan SDM, serta keterlibatan aktif dengan masyarakat sekitar. Berbagai penghargaan ESG pun diraih sebagai pengakuan atas komitmen Perseroan terhadap tata kelola dan operasi yang bertanggung jawab.

“Disiplin eksekusi dari hulu hingga hilir menjadi fondasi penting bagi fase pertumbuhan berikutnya, sekaligus memperkuat peran strategis Indonesia dalam mendukung transisi energi global,” tutup Teddy.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News