
KARAWANG, 8 JANUARI 2026 – VNNMedia – Indonesia menorehkan capaian strategis di sektor pertanian dengan berhasil mencapai swasembada pangan nasional pada 2025. Keberhasilan ini diraih jauh lebih cepat dari target pemerintah yang semula diproyeksikan empat tahun, namun terealisasi hanya dalam satu tahun.
Capaian tersebut diumumkan dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional 2025 yang digelar di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Momentum ini menjadi penanda penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus berakhirnya ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan strategis, khususnya beras.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan pilar utama kedaulatan bangsa. Menurutnya, ketergantungan pada impor pangan mencerminkan lemahnya kemandirian sebuah negara.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka jika pangan masih bergantung pada bangsa lain,” tegas Presiden.
Keberhasilan swasembada pangan 2025 tercermin dari lonjakan produksi pertanian nasional. Produksi beras sepanjang 2025 tercatat mencapai 34,71 juta ton, meningkat 4,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi tersebut menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton, sehingga Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025.
Penguatan produksi juga berdampak pada ketahanan cadangan pangan nasional. Stok beras Perum Bulog pada akhir 2025 mencapai 3,24 juta ton dan sempat menembus level 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan logistik pangan nasional.
Kondisi ini memberikan ruang kebijakan yang lebih stabil dalam menjaga pasokan dan harga beras di dalam negeri.
Dari sisi kesejahteraan petani, capaian swasembada pangan turut mendorong peningkatan pendapatan. Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2025 tercatat sebesar 125,35, menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Angka ini mencerminkan menguatnya daya beli petani seiring perbaikan harga hasil produksi dan efisiensi biaya usaha tani.
Sementara itu, kinerja perdagangan sektor pertanian juga menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pertanian nasional pada periode Januari–Oktober 2025 mencapai Rp629,7 triliun, tumbuh 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pencapaian ini menegaskan daya saing pertanian Indonesia yang semakin kuat di pasar global,” tutur Presiden.
Pemerintah menegaskan bahwa swasembada pangan 2025 bukanlah akhir, melainkan fondasi bagi penguatan kemandirian nasional jangka panjang.
Ke depan, pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi produksi, memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya, serta memastikan hasil pembangunan pertanian berdampak langsung bagi petani, nelayan, dan masyarakat luas.
Foto : BPMI Setpres
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News
a