
SURABAYA, 1 April 2026 – VNNMedia – Pemulihan bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi resmi dimulai. Proyek ini menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengembalikan kondisi bangunan bersejarah yang terdampak kebakaran akibat bom molotov pada Agustus 2025 lalu.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak memimpin langsung prosesi groundbreaking yang digelar Rabu (1/4/2026). Prosesi tersebut ditandai dengan pengelupasan bagian dinding yang terbakar, didampingi Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jatim, I Nyoman Gunadi.
Khofifah menegaskan, proses pemugaran dilakukan dengan pendekatan konservasi ketat, mengacu pada koordinasi bersama tim cagar budaya Pemkot Surabaya. Tujuannya untuk menjaga kemiripan dengan bentuk asli bangunan.
“Kami berupaya semaksimal mungkin mengembalikan bentuk Grahadi seperti semula. Meski tidak bisa identik, tingkat keserupaan akan dimaksimalkan,” ujarnya.
Lingkup pekerjaan mencakup rekonstruksi atap, replikasi elemen bangunan seperti engsel, kusen, dan pintu, hingga penataan ulang ruang yang terdampak kebakaran. Selain itu, hasil ekskavasi arkeologi seperti balok kayu lama juga akan ditampilkan sebagai bagian dari nilai edukasi sejarah.
Pemugaran ini memiliki tantangan tersendiri karena menggunakan material khusus yang tidak tersedia di dalam negeri. Beberapa bahan harus didatangkan dari luar negeri, termasuk mortar berbasis kapur yang menjadi ciri khas konstruksi bangunan lama.
“Bangunan ini awalnya dibangun tanpa semen. Perekatnya menggunakan kapur. Beberapa bagian lama seperti kusen tetap dipertahankan,” jelas Khofifah.
Tahapan awal pemulihan dimulai dari proses identifikasi material sisa kebakaran, seperti batu bata dan genteng, guna memastikan rekonstruksi mendekati bentuk asli. Seluruh proses dikawal ketat oleh tim ahli cagar budaya dan berbagai elemen terkait.
Gedung Grahadi yang berdiri sejak 1810 ini akan dipugar dengan tetap mempertahankan nilai historisnya. Salah satu inovasi dalam pemugaran adalah menampilkan lantai asli melalui metode ekskavasi, yang akan ditutup dengan kaca sebagai sarana edukasi publik.
Secara teknis, struktur bangunan juga akan diperkuat, termasuk penambahan ring balok pada atap untuk meningkatkan ketahanan konstruksi. Sementara lantai akan menggunakan material marmer yang disesuaikan dengan bangunan utama.
Tak hanya fokus pada restorasi, proyek ini juga dilengkapi sistem proteksi kebakaran sebagai langkah mitigasi risiko di masa depan.
Pemugaran sayap barat Grahadi ditargetkan selesai dalam 210 hari kalender, mulai 30 Maret hingga 25 Oktober 2026, dengan nilai kontrak mencapai Rp12,76 miliar yang bersumber dari APBD Jawa Timur.
Khofifah berharap, pemulihan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik dalam menjaga cagar budaya.
“Pelestarian cagar budaya adalah tanggung jawab bersama. Kita harus menjaga bukan hanya Grahadi, tetapi seluruh warisan sejarah bangsa,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News