
Tokyo, 24 Mei 2025-VNNMedia- Jepang kembali mencetak rekor kunjungan wisatawan asing pada April, dengan angka mencapai 3,91 juta orang, melonjak 28,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini melampaui rekor bulanan sebelumnya sebesar 3,78 juta pada Januari 2025, sekaligus menjadi bulan pertama yang menembus 3,9 juta pengunjung
Melansir dari Japan Today, menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), melonjaknya permintaan kunjungan ke Jepang didorong oleh musim bunga sakura yang menjadi daya tarik utama di berbagai pasar, serta peningkatan minat perjalanan luar negeri dari negara-negara di Asia, Eropa, AS, dan Australia yang bertepatan dengan liburan Paskah
Secara kumulatif, dalam empat bulan pertama tahun ini, total kunjungan wisatawan asing mencapai 14,4 juta, naik 24,5 persen. Lonjakan ini juga didukung oleh melemahnya nilai tukar yen selama berbulan-bulan, yang membuat Jepang menjadi destinasi yang lebih terjangkau. Tahun lalu, data pariwisata nasional mencatat rekor sekitar 36,8 juta kedatangan
Pemerintah Jepang memiliki target ambisius untuk melipatgandakan jumlah wisatawan menjadi 60 juta per tahun pada 2030. Upaya sedang dilakukan untuk menyebarkan wisatawan secara lebih merata ke seluruh negeri, guna menghindari penumpukan di lokasi-lokasi populer
Namun, rekor kunjungan ini juga membawa tantangan. Sama seperti destinasi global lainnya, muncul penolakan dari penduduk setempat di beberapa lokasi wisata, seperti di kota kuno Kyoto, yang terkenal dengan geisha dan kuil-kuilnya yang kini semakin ramai
Di Gunung Fuji, pihak berwenang mulai mengenakan biaya kepada pendaki untuk mengurangi kepadatan, bahkan sempat memasang penghalang di luar sebuah toko serba ada untuk mencegah kerumunan yang berfoto
Para pebisnis di kota-kota besar seperti Tokyo juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan kamar hotel akibat tingginya permintaan dari wisatawan. Selain itu, meningkatnya konsumsi sushi dan onigiri oleh wisatawan disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab kelangkaan beras, yang mendorong harga makanan pokok ini ke tingkat tertinggi dan menciptakan masalah politik bagi pemerintah.
Musim bunga sakura tahun ini, meskipun waktu mekarnya sekitar rata-rata, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat bahwa perubahan iklim dan efek pulau panas perkotaan menyebabkan bunga sakura somei yoshino mekar sekitar 1,2 hari lebih awal setiap 10 tahun
Profesor emeritus Universitas Kansai, Katsuhiro Miyamoto, memperkirakan dampak ekonomi dari musim bunga sakura di Jepang tahun ini, mulai dari perjalanan hingga pesta, mencapai 1,1 triliun yen (sekitar US$7,3 miliar), naik signifikan dari 616 miliar yen pada tahun 2023
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News