
SURABAYA, 4 JANUARI 2026 – VNNMedia – Memasuki 2026, perekonomian global dan nasional masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Namun di balik dinamika tersebut, peluang usaha tetap terbuka lebar bagi pelaku bisnis yang mampu membaca arah perubahan dan beradaptasi secara cepat.
Wakil Ketua Kadin Surabaya sekaligus Direktur Utama CV Surya Bhakti Mandiri, Medy Prakoso, menilai kondisi ekonomi saat ini masih sangat dipengaruhi dampak panjang pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemi bukan sekadar krisis jangka pendek, melainkan peristiwa struktural yang efeknya bisa terasa hingga puluhan tahun ke depan.
“Covid belum sepenuhnya selesai. Banyak kajian menyebut dampaknya bisa dirasakan hingga 25 tahun, bahkan sampai 2044. Saat ini dunia masih berada dalam fase pemulihan,” kata Medy, Sabtu (3/1/2026).
Situasi tersebut tercermin dari lanskap dunia usaha. Di satu sisi, sejumlah korporasi besar tumbang akibat tekanan ekonomi 2024–2025. Namun di sisi lain, pelaku usaha baru terus bermunculan dengan model bisnis dan skala yang beragam. Tahun 2026 diperkirakan masih menjadi periode konsolidasi dan pemulihan lanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan investasi sepanjang 2025 tetap tumbuh dengan nilai yang signifikan. Meski demikian, Medy mengingatkan bahwa investasi tidak selalu berdampak instan. Banyak pelaku usaha masih menunggu hasil nyata dari modal yang ditanam dalam beberapa tahun terakhir.
Dinamika ekonomi domestik juga dipengaruhi meningkatnya investasi Indonesia ke luar negeri serta fragmentasi ekonomi dan teknologi global.
Tiongkok dan negara-negara yang lebih dulu mengalami fragmentasi kini mulai memperluas pengaruh ke negara berkembang. Setelah Asia, Afrika diproyeksikan menjadi kawasan pertumbuhan baru berikutnya.
Sementara itu, perekonomian Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Dampak kebijakan era Donald Trump dinilai belum sepenuhnya hilang, menciptakan gejolak berkepanjangan. Eropa berada pada kutub yang berbeda, meski secara kepentingan strategis masih dalam satu poros.
Kondisi global tersebut akan terus memengaruhi indikator makro ekonomi dunia, mulai dari nilai tukar dolar AS, harga emas, pasar saham, hingga aset kripto.
Di tengah tekanan eksternal, Indonesia diprediksi lebih fokus memperkuat fondasi domestik. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengejar target kinerja lima tahunan dengan percepatan pembangunan fisik dan investasi, termasuk melalui skema Danantara, setidaknya hingga 2027.
“Targetnya jelas, mendorong daya beli masyarakat dan meningkatkan belanja negara,” ujar Medy.
Dari sisi sektoral, peluang besar diperkirakan muncul di bidang energi, teknologi informasi (IT), serta hasil bumi yang menopang industri teknologi dan komponen elektronika. Kebutuhan digitalisasi, modernisasi sistem, dan penguatan jaringan nasional akan terus meningkat.
Efek lanjutannya, industri pendukung baru berpotensi tumbuh, khususnya di Jawa Timur. Posisi Jawa Timur sebagai gerbang Indonesia Timur dinilai menjadi keunggulan strategis yang mendorong perdagangan, baik domestik maupun internasional.
Di sektor perdagangan luar negeri, ekspor diproyeksikan tetap tumbuh seiring dorongan pemerintah dan ekspansi investasi ke luar negeri. Namun, karakter industri Jawa Timur yang kuat juga membuat kebutuhan impor tetap tinggi, terutama untuk bahan baku dan penunjang produksi.
Secara proporsi, aktivitas impor diperkirakan masih berada di kisaran 10 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menjaga rantai pasok industri. Medy menekankan, pelaku usaha yang ingin bertahan dalam jangka panjang harus menanam investasi secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat.
Bagi pengusaha yang cenderung berhati-hati, sektor jasa dan usaha riil skala kecil dinilai masih relatif aman. Namun, pemahaman terhadap regulasi serta kondisi mikro dan makro ekonomi tetap menjadi faktor penentu.
Medy juga menyoroti tantangan utama ke depan, yakni pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan. Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, tetapi di sisi lain berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja.
“Penguatan SDM dan kewirausahaan penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal dan standar UMP/UMR,” ujarnya.
Meski awal tahun kerap diwarnai kekhawatiran, Medy optimistis dunia usaha akan kembali menemukan titik keseimbangan. “Setiap tahun selalu ada kecemasan, tetapi sejarah menunjukkan kita selalu bisa melewatinya. Akan selalu ada keadaan baru yang menjadi penyelamat,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News