
SURABAYA, 4 FEBRUARI 2026 – VNNMedia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur memastikan stabilitas sektor jasa keuangan daerah tetap terjaga hingga November 2025 dan menjadi penopang penting prospek perekonomian Jawa Timur pada 2026. Ketahanan tersebut dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
OJK Jatim mencatat stabilitas sektor keuangan tercermin dari kinerja positif perbankan, industri keuangan nonbank (IKNB), pasar modal, serta penguatan literasi dan inklusi keuangan, termasuk aspek pelindungan konsumen. Kondisi ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menjelaskan bahwa dari sisi harga, inflasi Jawa Timur masih berada dalam rentang target nasional.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, inflasi pada November 2025 tercatat sebesar 2,63 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan III 2025 yang berada di level 2,53 persen (yoy).
“Meski mengalami kenaikan, inflasi Jawa Timur masih berada di sekitar sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Yunita.
Ia mengungkapkan, kenaikan inflasi terutama dipengaruhi lonjakan harga komoditas hortikultura akibat curah hujan tinggi, serta komoditas peternakan yang terdorong oleh peningkatan biaya input dan permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.
Namun demikian, tekanan inflasi relatif tertahan berkat berbagai stimulus pemerintah, termasuk kebijakan subsidi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor angkutan udara.
OJK juga mencatat upaya pengendalian inflasi di Jawa Timur terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Jatim bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat. Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Secara tahunan, inflasi Jawa Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,93 persen (yoy) sekaligus menjadi inflasi kumulatif sepanjang 2025 (year to date/ytd), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,25. Capaian ini menunjukkan inflasi tahunan masih terkendali meskipun terdapat tekanan musiman secara bulanan.
Ke depan, risiko inflasi diperkirakan masih bersumber dari komoditas pangan strategis, komponen nonpangan dengan bobot besar seperti emas perhiasan, serta kelompok transportasi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Oleh karena itu, pengendalian inflasi perlu difokuskan pada stabilisasi pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta penguatan respons musiman berbasis kewilayahan agar inflasi tetap dalam sasaran dan disparitas antar daerah dapat ditekan,” pungkas Yunita.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News