Negosiasi Gencatan Senjata Gaza di Doha Terancam Gagal Total

Doha, 12 Juli 2025-VNNMedia- Negosiasi alot antara Israel dan Hamas di Qatar mengenai gencatan senjata baru di Gaza serta kesepakatan pembebasan sandera dilaporkan berada di ambang kegagalan. Para pejabat Palestina yang mengetahui detail diskusi menuding Israel sengaja mengulur waktu dan kurangnya keseriusan dalam perundingan tersebut

BBC melaporkan seorang pejabat senior Palestina mengatakan bahwa Israel telah “membeli waktu” selama kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Washington minggu ini. Delegasi Israel disebut dikirim ke Doha tanpa wewenang nyata untuk membuat keputusan kunci terkait isu-isu yang paling diperdebatkan, seperti penarikan pasukan Israel dan penyaluran bantuan kemanusiaan.

Meskipun Netanyahu sebelumnya menyatakan optimisme akan tercapainya kesepakatan “dalam beberapa hari” sebelum meninggalkan AS pada Kamis, kenyataannya di lapangan berbeda. Sejak Minggu lalu, negosiator Israel dan Hamas telah menghadiri delapan putaran pembicaraan “kedekatan” tidak langsung di Doha, difasilitasi oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdul Rahman Al Thani dan pejabat intelijen senior Mesir, serta dihadiri utusan AS Brett McGurk

Pada Jumat malam, sejumlah pejabat Palestina mengungkapkan bahwa negosiasi terancam kolaps karena kedua belah pihak masih terpecah belah pada sejumlah isu kontroversial. Diskusi terkini berfokus pada dua hal utama: mekanisme pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza dan sejauh mana penarikan militer Israel

Hamas bersikeras bahwa bantuan kemanusiaan harus masuk dan didistribusikan melalui badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi bantuan internasional. Sebaliknya, Israel mendorong distribusi bantuan melalui mekanisme kontroversial yang didukung Israel dan AS, yang dijalankan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Para mediator mengakui minimnya kemajuan dalam menjembatani perbedaan terkait masalah ini

Selain itu, isu penarikan pasukan Israel juga menjadi batu sandungan besar. Dalam putaran perundingan kelima, negosiator Israel dilaporkan menyerahkan pesan tertulis yang menyatakan Israel akan mempertahankan “zona penyangga” terbatas di Gaza dengan kedalaman 1 hingga 1,5 kilometer. Hamas awalnya melihat ini sebagai titik awal kompromi yang memungkinkan

Namun, ketika Hamas meminta dan menerima peta yang menguraikan zona penarikan yang diusulkan Israel, dokumen tersebut menunjukkan posisi militer yang jauh lebih dalam dan bertentangan dengan pesan sebelumnya

Peta itu menunjukkan zona penyangga sedalam 3 kilometer di wilayah tertentu dan mengonfirmasi keberadaan Israel yang berkelanjutan di wilayah luas, meliputi seluruh kota selatan Rafah, 85% desa Khuzaa timur Khan Younis, sebagian besar kota utara Beit Lahia dan Beit Hanoun, serta lingkungan timur Kota Gaza seperti Tuffah, Shejaiya, dan Zeitoun

Pejabat Hamas menilai peta itu sebagai manuver tidak jujur dari Israel, yang semakin mengikis rasa percaya antara kedua pihak

Para pejabat Palestina menuduh delegasi Israel sengaja mengulur waktu untuk menciptakan latar belakang diplomatik yang positif bagi kunjungan perdana menteri Israel baru-baru ini ke Washington. “Mereka tidak pernah serius dalam perundingan ini,” ujar seorang negosiator senior Palestina. “Mereka memanfaatkan putaran perundingan ini untuk mengulur waktu dan memproyeksikan citra kemajuan yang palsu.”

Pejabat tersebut juga mengklaim bahwa Israel sedang menjalankan strategi jangka panjang berupa pemindahan paksa dengan kedok perencanaan kemanusiaan. Rencana Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, untuk memindahkan warga Palestina ke “kota kemanusiaan” di Rafah dituduh sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk merelokasi mereka secara permanen. “Tujuan memusatkan warga sipil di dekat perbatasan Mesir adalah untuk membuka jalan bagi pengusiran mereka, baik melalui penyeberangan Rafah ke Mesir maupun melalui laut,” kata pejabat tersebut

Pada hari Senin, Katz menjelaskan kepada wartawan Israel bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menyiapkan rencana pembangunan kamp baru di Rafah yang awalnya akan menampung sekitar 600 ribu warga Palestina – dan akhirnya seluruh populasi yang berjumlah 2,1 juta orang. Dalam rencana tersebut, warga Palestina akan diperiksa keamanannya oleh pasukan Israel sebelum diizinkan masuk dan tidak diizinkan keluar

Dengan pembicaraan yang berada pada titik kritis, pihak Palestina meminta Amerika Serikat untuk campur tangan lebih kuat dan menekan Israel agar membuat konsesi yang berarti. Para mediator memperingatkan, tanpa intervensi semacam itu, negosiasi Doha bisa gagal total, yang akan semakin mempersulit upaya regional untuk mencapai gencatan senjata yang langgeng dan mencegah bencana kemanusiaan yang lebih luas di Gaza.

Para diplomat di Doha menyatakan masih ada peluang sempit untuk kompromi, tetapi situasinya masih sangat rapuh. “Proses ini berada di ujung tanduk,” kata seorang pejabat regional. “Kecuali ada perubahan drastis dan cepat, kita mungkin sedang menuju kehancuran.”

Sebagai respons atas serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, militer Israel melancarkan kampanye di Gaza. Sejak saat itu, setidaknya 57.823 orang telah tewas di Gaza, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut, dilansir dari BBC

Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News