
JAKARTA, 13 APRIL 2026 – VNNMedia – Kebiasaan memilah sampah kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern masyarakat urban. Tidak lagi sekadar aktivitas kebersihan rumah tangga, tren ini mulai dipandang sebagai identitas gaya hidup peduli lingkungan yang sejalan dengan pola hidup sehat dan mindful living.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan mendorong perubahan perilaku dalam mengelola sampah dari rumah. Mulai dari memisahkan sampah organik, anorganik, hingga residu, kebiasaan sederhana ini dinilai mampu memberi dampak besar terhadap pengurangan volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma, mengatakan kepedulian terhadap sampah kini bukan lagi sekadar program sesaat, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Memilah sampah dari rumah adalah bentuk nyata kepedulian yang bisa dilakukan siapa saja,” ujarnya.
Dalam praktiknya, tren memilah sampah dimulai dari penerapan sistem tiga kategori di rumah, yakni memisahkan sampah organik seperti sisa makanan, sampah anorganik seperti plastik dan kertas, serta sampah residu yang sulit didaur ulang.
Selain itu, masyarakat juga mulai membiasakan jadwal rutin memilah sampah, mengolah sisa organik menjadi kompos, hingga menerapkan prinsip “before you throw” dengan mempertimbangkan apakah barang masih bisa digunakan kembali, diperbaiki, atau didonasikan.
Tren ini juga didukung berkembangnya bank sampah di berbagai daerah yang memudahkan warga menyetorkan sampah terpilah, mulai dari plastik, kaca, minyak jelantah, hingga barang elektronik bekas.
Kehadiran komunitas pengelola sampah membuat aktivitas memilah sampah semakin praktis dan relevan dengan gaya hidup perkotaan.
Di sisi industri, dukungan terhadap gerakan ini juga terus berkembang.
Salah satunya melalui program SIRKULA-C yang digagas PT Cemindo Gemilang Tbk, produsen Semen Merah Putih, untuk mengelola sampah berbasis ekonomi sirkular bersama masyarakat sekitar.
Melalui program tersebut, sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan budidaya maggot, sedangkan sampah anorganik tertentu diolah menjadi bahan bakar alternatif RDF. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sampah yang dikelola dengan tepat dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
Perubahan pola pikir masyarakat terhadap sampah inilah yang menjadikan memilah sampah bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi bagian dari gaya hidup peduli yang terus tumbuh di Indonesia.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News