Makro Normal, Mikro Kanker Ganas

Hadipras

SURABAYA, 4 APRIL 2026 – VNNMedia – Makro Normal, Mikro Kanker Ganas

Oleh : Hadipras
Penulis adalah Ketua Dewan Pakar PWI Jawa Timur

Jika ekonomi Indonesia adalah seorang pasien yang menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan, maka hasil laboratorium makroekonominya di tahun 2025 akan membuat dokter tersenyum lega.

Tekanan darah (inflasi) rendah di 2,92%, detak jantung (pertumbuhan PDB) stabil di 5,11%, bahkan kadar gula (surplus perdagangan) terlihat manis sepanjang tahun dengan akumulasi USD41 miliar.

Di atas kertas, pasien ini tampak bugar. Namun, jika dokter itu berani melakukan biopsi lebih dalam ke tingkat sel—mikroekonomi rumah tangga dan pasar kerja—mereka akan menemukan sel-sel ganas yang terus menyebar secara diam-diam.

Pasien ini tidak sedang flu biasa; ia menderita kanker struktural stadium lanjut yang kian memburuk dari tahun ke tahun, meski wajah luarnya masih tersenyum.

Metastasis Kelas Menengah
Dalam dunia medis, metastasis adalah penyebaran sel kanker dari organ asal ke jaringan sehat lainnya. Dalam ekonomi Indonesia, “metastasis kelas menengah” tercermin dari penyusutan jumlah kelas menengah yang terus berlanjut tanpa henti.

Data BPS menunjukkan bahwa antara 2019 dan 2025, sebanyak 10,63 juta jiwa kelas menengah “murni” telah menghilang dari peta ekonomi. Bukan karena mereka naik kelas menjadi kaya—melainkan karena mereka jatuh bebas ke kelompok aspiring middle class yang kini membengkak menjadi 142 juta jiwa.

Artinya, lebih dari separuh populasi Indonesia hidup dalam kondisi rentan, hanya berjarak satu langkah saja dari garis kemiskinan. Satu kali gagal panen, satu kali PHK, satu kali kebijakan kenaikan pajak yang keliru, maka mereka akan terperosok ke jurang kemiskinan ekstrem.

Ini adalah metastasis ekonomi yang paling berbahaya, karena menyerang organ vital konsumsi domestik—yang menyumbang lebih dari separuh PDB nasional. Tanpa kelas menengah yang sehat, perekonomian Indonesia berjalan dengan satu paru-paru.

Infeksi Pasar Kerja yang Membusuk
Kanker menginfeksi tubuh melalui aliran darah. Dalam ekonomi Indonesia, “infeksi pasar kerja” terjadi ketika pekerjaan formal yang berkualitas secara sistemik digantikan oleh pekerjaan informal dan setengah pengangguran.

Memang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun ke level terendah 4,74%—sebuah prestasi statistik, BPS. Namun, angka itu hanyalah kamuflase. Di baliknya, dominasi pekerja informal masih mencapai 57,8% dari total angkatan kerja, sementara 11,6 juta orang masuk kategori setengah pengangguran, yaitu bekerja dibawah 35 jam per minggu tetapi ingin bekerja lebih.

Pasien ini terlihat sibuk—seluruh tubuhnya bergerak—tetapi setiap gerakan itu lemah, tidak produktif, dan tidak menghasilkan cukup energi untuk menghidupi sel-sel tubuhnya.

Mereka adalah para ojek online yang menunggu order hingga 12 jam sehari, buruh harian lepas yang hanya bekerja tiga hari seminggu, serta pedagang kaki lima yang omzetnya tak cukup untuk membayar sewa kios. Perekonomian tumbuh, tetapi kualitas kerja merosot.

Utang dan Rupiah yang Terus Membebani
Hasil lab makro lainnya menunjukkan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Rasio utang pemerintah yang menyentuh 39,86% dari PDB pada pertengahan 2025 adalah seperti kadar kolesterol jahat yang terus menumpuk di arteri fiskal. Porsi pembayaran bunga utang yang membengkak perlahan mengkanibalisasi anggaran produktif untuk infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Kondisi hutang Indonesia juga sudah lampu kuning. Pokok utang yang jatuh tempo tahun 2025: sekitar Rp 800 triliun. Total DSR (bunga + pokok) ≈ Rp 1.314–1.352 triliun. Rasio terhadap penerimaan negara diestimasi: 47–48% (2025). Beberapa analis (misalnya Wijayanto Samirin, ekonom Paramadina) menyebut sekitar 51% (terutama proyeksi APBN 2026 atau realisasi terkini).

Angka ini lebih tinggi karena pokok utang memang besar dan harus dibayar tiap tahun (meskipun pemerintah biasanya rollover dengan menerbitkan utang baru).

Sementara itu, pelemahan Rupiah hingga di atas Rp16.500 per USD adalah tekanan eksternal yang memperburuk kondisi. Pernah sentuh Rp. 17.000 dan BI pontang panting.

Setiap impor bahan baku menjadi lebih mahal, dan biaya itu pada akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir—yang tidak lain adalah kelas menengah yang sedang sekarat.

Prognosis
Jika  pasien Indonesia tidak dioperasi sekarang, peluang kematian 2045 bukan sekedar metafora. Narasi “Indonesia Emas 2045” adalah target mulia, tetapi akan menjadi sekedar nisan ekonomi jika kita tidak melakukan operasi struktural besar-besaran sekarang juga.

Pemerintah harus segera mengalihkan subsidi yang selama ini dinikmati kalangan mampu ke perlindungan sosial yang tepat sasaran bagi kelas menengah bawah dan program pelatihan vokasi massal.

Insentif besar-besaran bagi sektor formal padat karya harus diciptakan untuk menyerap puluhan juta pekerja informal. Tanpa itu, “tumor informalitas” akan terus bermetastasis hingga seluruh sendi ekonomi hancur.

Indonesia masih punya waktu, namun waktu tidak berpihak pada mereka yang memilih buta terhadap biopsi. Sebab, sebagaimana kata pepatah: “Pasien yang tubuhnya digerogoti kanker boleh saja tersenyum di ruang UGD—asal jangan lupa memesan karangan bunga untuk pemakamannya sendiri”.

Dan sementara itu, di layar TV dan di atas podium-podium megah, para orang bebal masih berpidato dengan heroik semu, membungkus kebohongan dalam balutan substansi nan post-truth. Mereka bersafari ria, memungut suara seraya membiarkan rakyatnya terperosok dalam lumpur utang dan pekerjaan setengah mati.

Adapun publik yang sudah tahu—yang setiap hari merasakan getirnya harga naik dan upah tergerus—hanya bisa mengangguk-angguk. Bukan karena setuju. Bukan pula karena bodoh. Melainkan karena mereka sudah terlalu lelah, terlalu pasrah, dan tahu betul bahwa protes pun takkan mengubah apa-apa selain menambah daftar tersangka.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News