Likuiditas RI Tembus Rp10.089 Triliun, Uang Beredar Tetap Tumbuh di Februari 2026

JAKARTA, 29 MARET 2026 – VNNMedia — Likuiditas perekonomian Indonesia atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap menunjukkan tren positif pada Februari 2026. Bank Indonesia mencatat posisi M2 mencapai Rp10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), meski melambat dibandingkan Januari yang mencapai 10 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh komponen utama uang beredar, yakni M1 dan uang kuasi.

Uang beredar sempit (M1) tumbuh cukup tinggi sebesar 14,4 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya aktivitas transaksi masyarakat. Sementara itu, uang kuasi—yang mencakup simpanan berjangka dan tabungan—tumbuh 3,1 persen (yoy), menunjukkan kondisi yang relatif stabil.

Menurut Ramdan, perkembangan M2 juga dipengaruhi oleh peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit perbankan. Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat tumbuh signifikan 25,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 22,6 persen (yoy), seiring kebijakan fiskal yang masih ekspansif.

Di sisi lain, penyaluran kredit tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,9 persen (yoy), meski sedikit melambat dari Januari yang mencapai 10,2 persen. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan baik di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Bank Indonesia menilai pertumbuhan likuiditas yang tetap solid menjadi sinyal penting dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. Likuiditas yang terjaga diharapkan mampu mendorong konsumsi dan investasi, sekaligus memperkuat stabilitas sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna memastikan likuiditas tetap memadai, sekaligus menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh komponen utama uang beredar, yakni M1 dan uang kuasi.

Uang beredar sempit (M1) tumbuh cukup tinggi sebesar 14,4 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya aktivitas transaksi masyarakat. Sementara itu, uang kuasi—yang mencakup simpanan berjangka dan tabungan—tumbuh 3,1 persen (yoy), menunjukkan kondisi yang relatif stabil.

Menurut Ramdan, perkembangan M2 juga dipengaruhi oleh peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit perbankan. Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat tumbuh signifikan 25,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 22,6 persen (yoy), seiring kebijakan fiskal yang masih ekspansif.

Di sisi lain, penyaluran kredit tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,9 persen (yoy), meski sedikit melambat dari Januari yang mencapai 10,2 persen. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan baik di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Bank Indonesia menilai pertumbuhan likuiditas yang tetap solid menjadi sinyal penting dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. Likuiditas yang terjaga diharapkan mampu mendorong konsumsi dan investasi, sekaligus memperkuat stabilitas sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna memastikan likuiditas tetap memadai, sekaligus menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.