Kreatif! Pelajar Surabaya Sulap Kulit Bawang Putih Jadi Produk Bernilai Jual

SURABAYA, 20 JANUARI 2026 – VNNMedia – Kepedulian terhadap lingkungan mendorong siswa SMP Negeri 57 Surabaya, Raihan Jouzu Syamsudin berinovasi. Ia mengolah limbah kulit bawang putih menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai ekonomi.

Inovasi ini telah dijalankan sejak Februari 2024 dan terus berkembang hingga saat ini.

Proyek tersebut bermula dari keikutsertaan Raihan dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Dari ajang itu, Raihan tertarik mengolah limbah kulit bawang putih yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menyatakan inovasi Raihan sejalan dengan upaya Pemkot Surabaya dalam menumbuhkan pola pikir kreatif dan inovatif peserta didik sejak dini.

“Ini bagian dari edukasi agar anak-anak terbiasa berpikir kreatif dan solutif. Dispendik rutin menggelar lomba karya ilmiah dan penelitian untuk melatih inovasi siswa,” ujar Febrina.

Ia mengapresiasi Raihan karena mampu melampaui pemanfaatan limbah organik yang umumnya berhenti pada pembuatan kompos. Raihan justru melihat potensi lanjutan limbah kulit bawang putih sebagai bahan baku produk ramah lingkungan.

Hingga kini, Raihan telah mengolah sekitar 3,12 ton limbah kulit bawang putih menjadi tinta spidol ramah lingkungan, eco enzyme, dan sabun cair. Inovasi ini juga membawanya meraih predikat Pangeran II Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024.

Febrina menilai inovasi tersebut tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang kewirausahaan sejak dini. “Limbah yang awalnya tidak bernilai bisa diolah menjadi produk ekonomis,” katanya.

Dalam prosesnya, Raihan memanfaatkan riset sederhana berbasis data. Berdasarkan data BPS 2020, produksi bawang putih nasional mencapai sekitar 81.805 ton per tahun, yang berbanding lurus dengan potensi limbah kulit bawang putih.

Kulit bawang putih kering diolah menjadi pigmen hitam melalui pembakaran tertutup untuk menghasilkan black carbon, yang kemudian digunakan sebagai bahan alternatif tinta spidol. Sementara kulit yang lembab diolah menjadi eco enzyme, lalu dikembangkan menjadi sabun cair ramah lingkungan.

Produk inovasi Raihan telah dipasarkan melalui pameran, kegiatan lingkungan, hingga penjualan daring. Respons masyarakat pun positif, terutama terhadap eco enzyme dan sabun cair.

Meski lomba telah berakhir, Raihan memastikan proyek inovasi ini terus berjalan. Tantangan utamanya adalah membagi waktu antara sekolah dan pengembangan produk. “Hasil penjualan saya gunakan kembali untuk mengembangkan proyek, sekaligus menambah uang saku,” ujarnya.

Saat ini, tinta spidol 30 ml dijual Rp15.000, sementara sabun cair 250 ml dipasarkan Rp10.000 per botol. Inovasi Raihan pun diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar lain di Surabaya untuk peduli lingkungan sekaligus berani berinovasi.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News