
SURABAYA, 9 MARET 2026 – VNNMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan sejumlah truk yang telah dinormalisasi dimensinya kepada perwakilan sopir di halaman Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Jumat (6/3/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan penanganan kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL) sekaligus mendukung target Zero ODOL 2027 di Jawa Timur.
Program Zero ODOL 2027 merupakan kebijakan pemerintah pusat yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan untuk menertibkan kendaraan angkutan barang yang melanggar batas dimensi dan muatan.
Khofifah menegaskan, normalisasi dimensi kendaraan merupakan langkah penting untuk menciptakan sistem transportasi jalan yang lebih aman, tertib, dan berkelanjutan.
“Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menormalisasi kendaraan ODOL. Insyaallah jika kita bergerak bersama, Jawa Timur bisa mencapai Zero ODOL pada 2027,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur telah melakukan pengukuran terhadap 238 unit kendaraan milik anggota Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT). Dari jumlah tersebut, sebanyak 160 unit kendaraan dinyatakan harus melakukan normalisasi dimensi sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfasilitasi proses normalisasi tersebut secara bertahap, termasuk memberikan dukungan pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan bagi sopir yang juga merupakan pemilik kendaraan namun belum mampu melakukan penyesuaian secara mandiri.
“Seluruh proses normalisasi difasilitasi oleh Pemprov Jawa Timur, termasuk dukungan pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan,” katanya.
Menurut Khofifah, langkah tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak pelaku usaha transportasi dan komunitas sopir untuk menyesuaikan dimensi kendaraan sesuai aturan yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa kendaraan ODOL tidak hanya melanggar regulasi, tetapi juga berdampak besar terhadap keselamatan lalu lintas dan kerusakan infrastruktur jalan.
Kendaraan dengan dimensi dan muatan berlebih diketahui meningkatkan risiko kecelakaan serta mempercepat kerusakan jalan. Dampaknya tidak hanya menambah beban anggaran perbaikan infrastruktur, tetapi juga mengganggu kelancaran distribusi logistik nasional.
“Di tengah penguatan sistem logistik nasional, kendaraan ODOL justru bisa menjadi penghambat. Kerusakan jalan akibat beban berlebih akan mempengaruhi distribusi barang dan keselamatan di jalan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) yang telah menunjukkan komitmen mendukung program normalisasi kendaraan. Ia juga memberikan penghargaan kepada perusahaan karoseri CV Sumber Karya Abadi yang turut berperan dalam proses penyesuaian dimensi kendaraan.
Menurutnya, keberhasilan program Zero ODOL membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, pelaku usaha transportasi, komunitas pengemudi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Khofifah pun mengajak seluruh pihak untuk terus melanjutkan normalisasi kendaraan yang masih masuk kategori ODOL agar target Zero ODOL 2027 di Jawa Timur dapat tercapai.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News