KEBOHONGAN YANG TERHORMAT

SURABAYA, 12 FEBRUARI 2026 – VNNMedia – Kebohongan Yang Terhormat
Oleh: Hadipas
Pengamat Ekonomi- Politik, Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

Selamat datang di abad ke-21, sebuah era gemilang di mana kejujuran telah resmi dipensiunkan ke museum sejarah, bersanding dengan kaset pita dan mesin ketik.

Jika dahulu kebohongan dianggap sebagai aib yang memalukan, hari ini kita harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada evolusi kebohongan publik yang telah berhasil mengenakan setelan jas mewah, menyemprotkan parfum liberalisme, dan duduk dengan anggun di kursi-kursi kekuasaan.

Mari kita jujur -setidaknya untuk kalimat ini saja- bahwa di bawah bayang-bayang kapitalisme yang haus darah, kebohongan bukan lagi sekedar “salah bicara”. Ia adalah aset intelektual.

Anatomi Kebohongan yang “Canggih”
Dahulu, berbohong itu sederhana: Anda mencuri uang rakyat, lalu Anda bilang tidak. Membosankan. Tidak ada seni di dalamnya.

Namun sekarang, dalam balutan neo-imperialisme yang manis, kebohongan telah mengalami spesialisasi fungsi. Kita tidak lagi menyebutnya “bohong”, kita menyebutnya sebagai “narasi alternatif” atau “optimalisasi persepsi”.

Jika sebuah perusahaan multinasional merampas lahan adat di pelosok Indonesia demi nikel atau sawit, mereka tidak akan mengatakan sedang menjajah. Oh, itu terlalu kuno.

Mereka akan menggunakan jargon sustainable development atau corporate social responsibility.

Kebohongan modern memiliki karakter yang sopan; ia tidak menusuk dari depan, ia mencekik pelan-pelan dengan menggunakan grafik pertumbuhan ekonomi yang dibuat-buat.

Kehormatan yang Dipaksakan
Dalam dinamika politik kekuasaan, kebohongan telah mendapatkan tempat “terhormat”.

Di meja-meja perundingan internasional, kemampuan untuk menatap mata lawan bicara sambil menjanjikan perdamaian -sembari menandatangani kontrak penjualan senjata di bawah meja- adalah sebuah keahlian diplomatik yang dipuja.

Para politisi modern paham betul bahwa publik tidak butuh kebenaran; mereka butuh hiburan yang menenangkan.

Kebenaran itu kasar, pahit, dan seringkali membutuhkan pengorbanan. Sedangkan kebohongan? Ia elastis. Ia bisa dibentuk sesuai algoritma media sosial.

Jika kenyataan tidak sesuai dengan janji kampanye, maka gantilah kenyataannya dengan bantuan influencer sewaan dan ribuan akun anonim. Di sinilah kebohongan menjadi “benar” secara statistik (melalui jumlah likes), bukan secara faktual.

Kapitalisme: Sponsor Utama
Jangan lupakan peran kapitalisme dalam kemeriahan ini. Kebohongan publik membutuhkan biaya produksi yang tinggi. Anda butuh konsultan politik lulusan luar negeri, tim media yang ahli dalam framing, dan tentu saja, aparat yang siap “menertibkan” mereka yang terlalu jujur.

Dalam sistem ini, kejujuran adalah komoditas yang mahal namun memiliki nilai jual yang rendah.

Kebohongan, sebaliknya, adalah investasi dengan return yang sangat cepat.

Mengapa harus memperbaiki sistem kesehatan yang bobrok jika kita bisa membohongi publik dengan aplikasi digital yang tampak canggih namun isinya hanya birokrasi yang lebih rumit?

Kebohongan adalah pelumas yang menjaga mesin kekuasaan agar tidak macet oleh tuntutan moralitas yang merepotkan.

Evolusi Menuju “Pencerahan” Brutal
Jika kita melihat anatominya, kebohongan publik masa kini memiliki struktur yang sangat kuat. Ia berlindung di balik tembok legalitas.

Banyak kebohongan yang “sah” secara hukum karena hukum itu sendiri dibuat dengan tinta kebohongan.

Ini adalah lingkaran setan yang sangat elegan: kita membuat peraturan untuk melegalkan penipuan, lalu menggunakan penipuan tersebut untuk mempertahankan posisi kita agar bisa membuat lebih banyak peraturan.

Dunia sedang mengalami apa yang saya sebut sebagai “Intelektualisasi Brutalitas”. Kita tidak lagi menjadi brutal dengan pedang, melainkan dengan data yang dimanipulasi dan ideologi yang dipelintir.

Neo-imperialisme tidak lagi mengirim kapal perang; ia mengirim utang, kontrak kerja sama yang menjerat, dan narasi “kemajuan” yang sebenarnya adalah perbudakan gaya baru.

Menolak Terhanyut
Lalu, apa yang tersisa bagi kita, manusia-manusia biasa yang tidak memiliki anggaran untuk menyewa konsultan narasi?

Mungkin satu-satunya tindakan subversif yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap menjadi “bodoh” di mata dunia modern -yakni dengan tetap berpegang pada kenyataan.

Saat mereka menawarkan kebohongan yang dibungkus dengan pita liberalisme yang berkilau, kita harus berani menunjuk bahwa itu adalah sampah.

Kita harus menyadari bahwa “kehormatan” yang mereka pamerkan di panggung politik adalah kehormatan palsu yang dibangun di atas fondasi pasir.

Kebohongan, meski sudah berevolusi menjadi sangat kompleks, tetaplah memiliki satu kelemahan fatal: ia tidak bisa bertahan hidup tanpa persetujuan dari mereka yang dibohongi. Jangan beri mereka persetujuan itu!

Di tengah kebisingan digital yang penuh tipu daya, kebenaran yang paling sederhana adalah senjata yang paling mematikan.

Mari kita tertawakan liturgi mereka, karena satir adalah satu-satunya cermin yang tidak bisa mereka manipulasi.

Hukum di jaman ini seperti perangkat lunak: selalu ada ‘pintu belakang’ (backdoor) untuk para elite, dan selalu ada ‘bug’ untuk rakyat kecil. Kebenaran adalah virus yang harus segera dihapus agar sistem kekuasaan tetap berjalan lancar.

Di pasar bebas saat ini, kebenaran hanya akan bangkrut karena terlalu jujur dalam memberi harga, sementara kebohongan sukses besar karena ia menjual mimpi dengan cicilan seumur hidup.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News