Kakeahan Petingsing

Hadipras

SURABAYA, 5 MARET 2026 – VNNMedia – Dalam filosofi Jawa, ada sebuah garis tegas yang memisahkan antara andhap asor (rendah hati yang berisi) dengan “kakehan petingsing”. Jika andhap asor adalah watak kesatria yang bekerja dalam diam demi memayu hayuning bawana, maka kakehan petingsing adalah perilaku hampa yang sibuk bersolek demi mencari perhatian.

Tragisnya, dalam panggung politik dan bisnis popularitas Indonesia hari ini, “petingsing” telah bergeser dari sekedar perilaku memalukan menjadi strategi eksistensi yang dianggap paling efektif.

Secara harfiah, kakehan petingsing berarti kebanyakan tingkah yang dibuat-buat. Di era digital, fenomena ini mengalami glorifikasi luar biasa.

Ruang publik kita tidak lagi diisi oleh adu gagasan atau solusi riil atas kemiskinan dan ketimpangan, melainkan dipenuhi oleh festival “intelektual petingsing” dan politisi yang lebih sibuk memoles feed media sosial daripada memoles kebijakan.

Kekuasaan kini bekerja layaknya algoritma: substansi adalah nomor kesekian, yang utama adalah bagaimana tetap viral. Akibatnya, kita melihat politisi yang bertindak layaknya influencer, joget-joget, ngintip gorong-gorong, bagi-bagi amplop, di atas tumpukan masalah rakyat, atau melempar pernyataan kontroversial hanya agar namanya tetap “diomongke”.

Inilah simulakra dalam bentuk yang paling norak; dimana pencitraan berlebihan dianggap lebih nyata daripada kerja nyata.
Budaya kakehan petingsing ini adalah racun bagi visi kebangsaan.

Ia menciptakan agnotology, sebuah kondisi dimana masyarakat sengaja dialihkan perhatiannya dari isu strategis ke arah kegaduhan yang remeh-temeh.

Ketika energi bangsa habis untuk membahas drama personal para elite, isu-isu geoekonomi seperti penguasaan aset strategis oleh pihak asing atau kerusakan lingkungan yang sistemik justru luput dari radar.

Dampak paling ngerinya adalah hancurnya etos kerja. Generasi muda mulai mengamini bahwa kesuksesan bisa diraih secara instan melalui “petingsing” digital, bukan lewat ketekunan dan keahlian. Kita sedang bertransformasi dari bangsa yang bangga akan karya (nyambut gawe) menjadi bangsa yang bangga akan gaya.

Rasa malu (isin) yang menjadi pengendali sosial dalam budaya kita perlahan luntur, digantikan oleh mentalitas “yang penting eksis, urusan moral belakangan”.

Jika kita kaitkan dengan artikel sebelumnya (Dungu Buatan dan Republik Nggedabrus), kakehan petingsing adalah kemasan fisik dari perilaku nggedabrus.

Narasi diplomasi yang menyesatkan dan bualan politik (post-truth) membutuhkan gerakan dan koreografi petingsing agar terlihat meyakinkan. Ini adalah teater besar di mana rakyat ditarik sebagai penonton sekaligus figuran yang dibayar dengan bantuan sosial untuk tetap bertepuk tangan.

Para elite nampak sangat sibuk dan “ribet tanpa substansi”. Mereka berkeliling, membuat seremonial yang megah, dan berbicara dengan bahasa langit, padahal secara geoekonomi mereka sedang menggadaikan kedaulatan di bawah meja.

Inilah puncak hipokrisi: ketika tingkah dibuat sehebat mungkin untuk menutupi kedunguan dan kebebalan yang hakiki.
Namun, sejarah selalu punya cara untuk menghentikan musik. Estetika petingsing hanya bisa bertahan selama penontonnya masih terhibur.

Ketika krisis yang nyata datang menghantam—entah itu krisis pangan, energi, atau krisis kepercayaan—segala gerakan petingsing itu akan terlihat konyol dan menyedihkan.

Radical Break akan memaksa para penari petingsing ini turun dari panggung dan menghadapi kenyataan bahwa rakyat tidak bisa kenyang dengan konten, dan kedaulatan tidak bisa ditegakkan dengan joget.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kelebihan orang yang merasa pintar hanya karena pandai berakting. Pemimpin kita sekarang lebih mirip event organizer daripada negarawan; sibuk mengatur tata lampu dan background foto, sementara rumahnya sedang terbakar.

Mereka lupa bahwa sejarah tidak akan mencatat berapa banyak like yang mereka dapat, tapi berapa banyak rakyat yang tetap lapar di tengah pesta pora petingsing mereka.

Jika demokrasi hanya dijadikan ajang adu norak, jangan kaget jika suatu saat kita hanya akan mewariskan bangsa yang kaya akan drama, tapi miskin akan martabat.

Pada akhirnya, kasian juga melihat performa rezim kekuasaan saat ini. Karena terlalu banyak janji dan tingkah, sampai lupa mana jalan yang benar. Akhirnya jalan disini, tabrak sana; jalan disana, tabrak sini. Yang ditabrak bukanlah musuh, melainkan janji-janjinya sendiri.

Oleh: Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News