
SURABAYA, 21 November 2025 — VNNMedia – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan pentingnya peran industri dalam memperluas kesempatan pemagangan yang didukung pembiayaan pemerintah.
Ia mengungkapkan bahwa Jawa Timur sempat hampir tertinggal dari Jawa Tengah dalam serapan peserta magang berbasis program pemerintah, sehingga pada 2026 Kadin Jatim ingin memastikan partisipasi industri meningkat signifikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Adik dalam acara Sosialisasi Program Ajakan Industri 2026 yang digelar di Graha Kadin Jawa Timur, Surabaya.
Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk memperkuat komitmen dalam membuka ruang pemagangan bagi mahasiswa serta mendorong hilirisasi riset sebagai penguatan kompetensi tenaga kerja masa depan.
“Ajakan industri 2026 ini sangat penting. Mohon kesempatan pemagangan yang dibiayai pemerintah—termasuk uang saku—dapat dimanfaatkan,” kata Adik.
Ia menambahkan, keberhasilan program pemagangan sangat dipengaruhi oleh kesiapan instruktur perusahaan. Untuk itu, Kadin juga diberi mandat mensertifikasi pelatih tempat kerja agar pemagangan berjalan terstruktur dan menghasilkan kompetensi yang dapat diukur.
Adik juga menyoroti pengalaman beberapa perusahaan yang memperoleh manfaat nyata dari pemagangan. Menurutnya, mahasiswa magang mampu membantu menyelesaikan persoalan teknologi dan efisiensi yang dihadapi industri.
“Ketika saya terima pemagangan, anak-anak magang bahkan langsung berkoordinasi dengan dosen mereka untuk memecahkan masalah industri,” ujarnya. Ia menilai teknologi terapan dari kampus dapat menjadi solusi strategis bagi peningkatan efisiensi dan digitalisasi industri.
Sementara itu, Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Arif Irwansyah, melihat Program Ajakan Industri sebagai momentum memperkuat hubungan antara kampus dan dunia usaha.
Ia mencatat lebih dari 300 perwakilan industri hadir dalam kegiatan tersebut, menunjukkan minat besar untuk bekerja sama.
Arif menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis laboratorium di PENS memungkinkan mahasiswa menghasilkan riset aplikatif yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Kami berharap apa yang dikembangkan kampus bisa dimanfaatkan industri, atau industri menyampaikan kebutuhannya untuk kami optimalkan,” ujarnya. Menurutnya, riset kampus dan kebutuhan pasar industri harus saling melengkapi agar inovasi dapat masuk ke tahap implementasi.
Ia juga memaparkan temuan hasil studi ke Jepang mengenai pola kolaborasi industri–kampus–pemerintah. “Poin pentingnya adalah masing-masing pihak memahami potensi masing-masing. Ketika tiga pihak ini bersinergi, manfaatnya akan besar,” tambahnya.
Arif berharap pertemuan ini ditindaklanjuti dengan identifikasi kebutuhan teknologi industri Jawa Timur.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan bahwa penguatan SDM merupakan fondasi utama pembangunan ekonomi daerah. Ia mengapresiasi sinergi antara kampus dan industri dalam mendorong inovasi yang berdampak langsung pada produktivitas.
“Menyiapkan tenaga kerja yang memberi kontribusi terhadap negara adalah bagian dari penggerak roda perekonomian,” katanya.
Iwan menuturkan bahwa sektor industri pengolahan menyumbang 31,16% terhadap PDRB Jawa Timur. Dengan kontribusi sebesar itu, inovasi harus terus dipercepat agar daya saing industri tetap terjaga.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua industri memiliki akses terhadap teknologi, sehingga kolaborasi dengan kampus dan dukungan program pemerintah menjadi sangat penting. “Akses inovasi teknologi masih sulit bagi sebagian besar industri. Kegiatan ini luar biasa, semoga mampu mendorong inovasi di Jawa Timur,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendikstaintek, Fauzan Adziman, memaparkan arah kebijakan riset nasional yang kini berorientasi pada kebutuhan nyata industri. “Riset tidak lagi berbasis keinginan peneliti. Kami mendengarkan apa yang dibutuhkan industri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi riset hanya dapat dicapai bila industri memimpin proses riset dan kampus menjadi mitra penyelesai masalah.
Fauzan mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan riset besar, dengan sekitar 300 ribu dosen dan 10 juta mahasiswa yang bisa diberdayakan untuk memecahkan tantangan teknologi industri.
Program Ajakan Industri, lanjutnya, memungkinkan perusahaan mengajukan persoalan teknologi untuk kemudian dipertemukan dengan kampus yang paling relevan melalui platform nasional.
Ia juga menyampaikan bahwa pendanaan riset prioritas dan strategis tahun 2026 mencapai lebih dari Rp4 triliun. Pendanaan tersebut tidak hanya mendorong riset, tetapi juga memfasilitasi hilirisasi melalui kerja sama dengan bank Himbara untuk mendukung investasi teknologi.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News