Jepang Peringati 15 Tahun Bencana Gempa Besar Jepang Timur

Tokyo, Rabu 11 Maret 2026-VNNMedia- Tepat pada Rabu (11/3) ini, Jepang memperingati 15 tahun peristiwa memilukan Gempa Besar Jepang Timur. Bencana kembar berupa gempa bumi dahsyat dan tsunami yang melanda wilayah timur laut Jepang pada 2011 silam itu menyisakan duka mendalam serta salah satu krisis nuklir terburuk dalam sejarah modern

Pada 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang pesisir timur laut dan memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari sepuluh meter. Bencana ini mengakibatkan lumpuhnya sistem pendingin di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi milik TEPCO, yang memicu pelelehan reaktor serta kebocoran zat radioaktif ke lingkungan sekitar

Data kepolisian mencatat sebanyak 19.711 jiwa dinyatakan tewas, termasuk mereka yang meninggal dunia akibat komplikasi kesehatan pasca-bencana. Hingga hari ini, sebanyak 2.519 orang masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan

Investasi Besar dalam Infrastruktur

Pemerintah Jepang telah mengucurkan dana luar biasa besar mencapai 41 triliun yen (sekitar 260 miliar dolar AS) untuk upaya rekonstruksi selama 15 tahun terakhir. Proyek-proyek masif seperti peninggian permukaan tanah, pembangunan pelabuhan, jalan raya, hingga tembok laut sepanjang 430 kilometer sebagian besar telah selesai dikerjakan.

Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan infrastruktur fisik belum sepenuhnya menyelesaikan masalah sosial. Lebih dari 750.000 rumah dilaporkan rusak, dan hingga kini masih ada lebih dari 26.000 rumah tangga di Prefektur Iwate, Miyagi, dan Fukushima yang harus menetap di perumahan publik. Mayoritas penghuninya adalah lansia yang hidup sebatang kara

Menuju Fase Baru Revitalisasi

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah Jepang berencana menetapkan lima tahun fiskal mendatang sebagai “periode rekonstruksi dan revitalisasi ketiga”. Fokus utama pada fase ini akan dialihkan dari pembangunan fisik menuju perawatan kesehatan mental dan penguatan komunitas sosial

Meski demikian, rencana ini dibayangi kekhawatiran mengenai keberlanjutan jangka panjang. Anggaran yang dialokasikan untuk fase ketiga ini diperkirakan akan lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya, memicu kekhawatiran di kalangan penyintas mengenai dukungan pemerintah di masa depan

sumber: NHK News

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News