Jatim Didorong Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional, Ketimpangan Daerah Jadi Tantangan

SURABAYA, 6 Agustus 2025 – VNNMedia – Pertumbuhan ekonomi nasional masih stagnan di bawah 5 persen dalam lima tahun terakhir. Bahkan, hingga 2026, proyeksi pertumbuhan diperkirakan tak jauh berbeda.

Hal ini diungkapkan ekonom DR. Miguel Angel Esquivias dalam forum ekonomi bertajuk Inspire, Innovation Networking & Strategic Platform for Industrial Excellence yang digelar oleh Kadin Surabaya bekerja sama dengan Kadin Jatim, Kadin Institute, dan KMMB, Selasa (5/8/2025).

“Selama hampir satu tahun terakhir, banyak sektor menunjukkan stagnasi, mulai dari properti, infrastruktur, hingga energi. Satu-satunya yang bertumbuh signifikan adalah sektor teknologi, yang kini menarik minat besar dari investor,” ujar Miguel.

Untuk itu, Miguel mendorong serangkaian solusi strategis seperti digitalisasi regulasi pusat-daerah, pembentukan zona investasi satu pintu, serta diplomasi perdagangan yang lebih agresif untuk memperkuat daya saing Indonesia.

Ia menyebut tekanan global dan perubahan kebijakan ekonomi dunia menjadi penyebab utama lemahnya pertumbuhan Indonesia. Banyak negara kini lebih fokus pada strategi nasional masing-masing, sehingga membatasi arus perdagangan dan investasi internasional.

Namun, di tengah perlambatan itu, Jawa Timur justru ditargetkan untuk tumbuh 8 persen pada 2029. Provinsi ini berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Pulau Jawa, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp819,30 triliun pada triwulan I 2025 atau sekitar 25,11 persen dari total ekonomi pulau.

Sayangnya, pertumbuhan ini belum merata. Sekretaris Bappeda Jatim, Andhika Paratama Herlambang, menyoroti rendahnya kontribusi sektor pertanian meski menyerap lebih dari 10 persen tenaga kerja.

Ia menilai dominasi penjualan hasil pertanian dalam bentuk mentah membuat nilai tambah sektor ini belum optimal, padahal Jawa Timur merupakan produsen utama pangan nasional.

Ketimpangan juga terlihat pada sektor industri pengolahan yang terpusat hanya di beberapa kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan Pasuruan. Dari 38 kabupaten/kota di Jatim, lebih dari separuh memiliki kontribusi industri di bawah 1 persen.

“Ekonomi masih menumpuk di beberapa titik saja. Ini perlu diubah dengan pemerataan industri dan hilirisasi yang lebih serius,” tegas Andhika.

Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Pramkoso, menambahkan bahwa potensi Surabaya sebagai simpul logistik nasional sangat besar. Namun, tingginya biaya tambahan dalam proses produksi menghambat daya saing kota ini.

“Jika Surabaya mampu menekan ongkos produksi dan mempercepat reformasi SDM, kota ini bisa menjadi pusat pemulihan ekonomi nasional,” ungkapnya.

Ketua Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menyatakan bahwa peningkatan investasi dan transformasi tenaga kerja menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi regional.

Ia menyayangkan masih adanya 10 daerah di Jatim yang belum membentuk Tim Peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), termasuk Surabaya.

“Ini ironi, karena Surabaya diharapkan menjadi penggerak utama pembangunan SDM. Pemerintah daerah harus lebih serius mengembangkan pendidikan vokasi,” kata Adik.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News