Industri Perhiasan Jadi Pilar Nilai Tambah dan Ekspor

Foto : Dok. Kemenko Perekonomian

JAKARTA, 6 APRIL 2026 – VNNMedia – Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem emas nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk fluktuasi harga emas dan tensi geopolitik yang memengaruhi perdagangan internasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

Industri perhiasan emas dinilai memiliki peran strategis dalam ekosistem tersebut. Selain berorientasi ekspor dengan desain yang kompetitif di pasar global, sektor ini juga tergolong padat karya dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama dari kalangan generasi muda kreatif di bidang desain dan produksi.

Karakter industri ini juga unik karena memadukan teknologi manufaktur modern seperti otomasi dan desain digital dengan keterampilan craftsmanship yang menuntut ketelitian tinggi. Kombinasi tersebut menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing internasional.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan kunjungan ke PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), salah satu produsen perhiasan emas nasional terkemuka. Kunjungan ini bertujuan melihat langsung kondisi industri sekaligus menyerap masukan untuk arah kebijakan ke depan.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN Ferry Irawan meninjau proses produksi UBS sebagai bagian dari upaya memastikan kesinambungan rantai pasok emas nasional, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk integrasinya dengan kegiatan usaha bullion.

Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi. “Kami akan terus mengkonsolidasikan kesinambungan dari hulu hingga hilir agar daya saing ekosistem emas nasional semakin meningkat,” ujar Ferry.

Sementara itu, Direktur UBS sekaligus Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia, Eddy Yahya, mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk penerapan bea keluar emas yang dinilai mendukung penguatan industri dalam negeri.

Namun demikian, pelaku industri juga menyampaikan sejumlah masukan strategis, khususnya terkait penyempurnaan kebijakan perpajakan dan penguatan struktur pasar emas domestik. Pemerintah pun menyambut masukan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem yang lebih efisien dan mendukung iklim usaha.

Di sisi lain, dinamika geopolitik global turut berdampak pada kinerja ekspor industri perhiasan. Salah satunya adalah terhambatnya pengiriman ke Dubai yang menjadi salah satu pasar utama.

Meski demikian, prospek permintaan jangka menengah dinilai tetap positif. Budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia yang kuat, serupa dengan di India, menjadi faktor pendukung optimisme pemulihan pasar.

Eddy Yahya juga menekankan pentingnya penguatan pasokan domestik melalui pengembangan usaha bullion agar ketersediaan bahan baku emas lebih efisien dan kompetitif bagi industri.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google NEws