
SURABAYA, 12 AGUSTUS 2025 – VNNMedia – Lesunya kinerja beberapa sektor tradisional seperti industri hasil tembakau (IHT) tak menyurutkan optimisme Bank Indonesia (BI) Jawa Timur. Bersama kalangan akademisi, BI kini membidik potensi ekonomi baru yang bisa menjadi mesin pertumbuhan provinsi ke depan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Muhammad Noor Nugroho, mengungkapkan bahwa peta ekonomi Jawa Timur masih menyimpan banyak “titik buta” yang belum teridentifikasi. Menurutnya, faktor-faktor baru ini harus dipetakan agar strategi pembangunan lebih tepat sasaran.
“Banyak indikator baru muncul dalam karya ilmiah peserta East Java Economic (EJAVEC) Forum. Ini bisa menjadi blindspot yang perlu diperhatikan,” ujarnya di Surabaya, Senin (12/8/2025).
Tahun ini, EJAVEC mencatat lonjakan jumlah karya ilmiah hingga 376 paper, naik 230 persen dari tahun lalu. Salah satu gagasan segar datang dari penelitian tentang tenaga kerja pra-lansia—kelompok pekerja berpengalaman yang ternyata memiliki kontribusi ekonomi signifikan.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menilai pemetaan potensi baru penting di tengah turunnya kontribusi IHT yang dulu mencapai 7,5 persen terhadap PDRB. “Jangan sampai industri ini crash landing dan meninggalkan ratusan ribu orang kehilangan nafkah,” ujarnya.
Emil menyebut perubahan pola konsumsi masyarakat sebagai peluang sekaligus tantangan. Fenomena “rojali” (rombongan jarang beli) dan “rohana” (rombongan hanya nanya) menunjukkan konsumsi yang melambat. Namun, di sisi lain, muncul tren belanja massal di tanggal kembar serta tumbuhnya pasar kost eksklusif di kota besar, seiring menurunnya minat generasi muda membeli properti.
“Karya-karya ini bisa jadi panduan untuk mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi baru,” tegas Emil.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News