
SURABAYA, 11 APRIL 2026 – VNNmedia – Bayangkan sebuah panggung kuis televisi yang gemerlap. Lampu sorot menyilaukan mata para peserta muda—representasi Gen Z dan milenial akhir.
Namun, ketika pertanyaan mendasar seperti hasil “12 dikali 15” atau “siapa bapak bangsa kita” dilontarkan, panggung seketika hening. Yang muncul bukan jawaban tangkas, melainkan tatapan kosong atau tawa canggung yang dipaksakan. Di jagat maya, video viral yang mempertontonkan ketidaktahuan serupa menjadi komoditas hiburan yang murah.
Fenomena ini bukanlah sekadar lelucon media sosial. Ia adalah manifestasi dari krisis kognisi yang lebih dalam. Kita sedang menyaksikan sebuah retakan besar pada fondasi intelektual generasi mendatang, di mana kemudahan akses informasi justru berbanding terbalik dengan kedalaman pemikiran.
Secara global, dunia sedang dihantui oleh Reverse Flynn Effect. Selama berdekade, skor IQ manusia rata-rata naik tiga poin setiap sepuluh tahun berkat perbaikan gizi dan pendidikan.
Namun, tren ini kini berbalik arah. Ilmuwan saraf Jared Cooney Horvath, PhD, mencatat bahwa Gen Z menjadi generasi pertama dengan skor kognitif yang lebih rendah dibandingkan pendahulunya, terutama dalam daya ingat dan kemampuan mengelola fokus.
Data dari Northwestern University mempertegas penurunan dalam penalaran verbal dan kemampuan komputasi. Mengapa ini terjadi? Karena kita sedang terjebak dalam cognitive outsourcing—menyerahkan tugas-tugas berpikir kepada mesin. Otak manusia, yang seharusnya menjadi mesin pengolah data paling canggih, kini hanya berfungsi sebagai operator mesin pencari.
Di Indonesia, situasi ini mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan. Skor PISA 2022 menunjukkan matematika siswa kita melorot ke angka 366. Bayangkan, hanya 18% siswa yang mencapai standar minimal matematika, sementara rata-rata negara maju berada di angka 69%. Lebih ironis lagi, dalam tes berpikir kreatif, kita hanya meraih 19 dari 60 poin.
Riset SMERU Research Institute bahkan mengungkap fakta getir: kemampuan siswa kelas 4 pada tahun 2014 setara dengan siswa kelas 7 pada tahun 2000. Kita telah kehilangan “tiga tahun” kecerdasan kolektif dalam satu dekade! Ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah lonceng kematian bagi daya saing bangsa di panggung global.
Akar masalahnya bukan pada genetik, melainkan pada ekosistem belajar yang kian “lembek”. Kurikulum kita cenderung dibuat terpandu dan minim tantangan. Pendidikan yang seharusnya menjadi ajang “berpikir sulit” justru berubah menjadi sekadar mengisi formulir daring atau menonton video edukasi yang instan.
Transformasi digital yang tidak dibarengi dengan ketajaman literasi menciptakan generasi yang mahir memindahkan jempol (scrolling), namun gagap dalam memetakan hubungan kompleks antara
makroekonomi dan realitas sosial.
Sungguh sebuah pemandangan yang miris sekaligus memilukan. Kita begitu bangga menyongsong “Generasi Emas”, namun nampaknya kita sedang sibuk melapisi perunggu dengan cat kuning yang berkilau. Di menara gading kekuasaan, kabinet kita diisi oleh orang-orang bergelar mentereng—doktor hingga profesor dari universitas ternama dunia—yang seharusnya paling paham betapa mengerikannya data PISA dan
Reverse Flynn Effect ini.
Namun, alih-alih menunjukkan kecemasan intelektual atau merumuskan kebijakan radikal untuk menyelamatkan nalar bangsa, mereka justru lebih sering terlihat sibuk berpolitik praktis, ribut anggaran, dan asyik “panjat sosial” di layar kaca layaknya aktor dan aktris pendatang baru. Panggung birokrasi berubah menjadi panggung hiburan, di mana pencitraan lebih utama daripada substansi kognisi.
Kita sibuk mendiskusikan Artificial Intelligence, sementara kecerdasan alami bangsa sendiri sedang mengalami hibernasi panjang. Mungkin nanti, ketika robot benar-benar mengambil alih pekerjaan manusia, anak-anak kita tidak akan protes.
Mereka mungkin terlalu sibuk mencari cara bagaimana mematikan alarm mesin tersebut tanpa harus membaca buku panduannya—sementara para menterinya masih sibuk berswafoto merayakan “keberhasilan” yang hanya ada di dalam angka-angka polesan. Sebuah akhir yang tragis dalam ketidaktahuan yang paripurna.
Wajar jika kemudian muncul pertanyaan yang gemas kepada Presiden, Menteri, pimpinan parpol, akademisi, hingga para orang tua: “Indonesia hendak dibawa ke mana?”.
Sebuah pertanyaan yang mungkin hanya akan dijawab dengan kegagapan, karena sang penentu kebijakan pun nampaknya mulai terjangkit sindrom serupa: :penyusutan kognisi yang kronis”!.
Oleh: Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jawa Timur
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News