
SURABAYA, 12 MEI 2025 – VNNMedia – Festival Sinema Kita (FSK) 2025 resmi digelar di Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, dengan mengusung tema “City and Us: Cerita Kota, Cerita Kita.” Mengedepankan sinema sebagai ruang reflektif dan penghubung antargenerasi, FSK tahun ini memperluas cakrawala dengan mengangkat persoalan kota bukan hanya sebagai ruang geografis, tapi juga sebagai cerminan nilai, konflik, dan harapan manusia.
Salah satu program paling menggugah perhatian datang dari pemutaran film dokumenter Road to Resilience dan diskusi buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya akademisi dan peneliti Dr. Noor Huda Ismail. Program ini menyuarakan nasib perempuan dan anak-anak Indonesia yang terperangkap di kamp pengungsian Suriah, dan menjadi panggilan empati di tengah suasana festival yang biasanya sarat selebrasi.
Hadir dalam sesi diskusi adalah Noor Huda Ismail sendiri, bersama sutradara Road to Resilience, Ridho Dwi Ristiyanto, dan Febri Ramdani—tokoh utama dalam film berdurasi 37 menit tersebut. Film ini merekam perjalanan Febri, remaja Indonesia yang pernah terjerat propaganda ISIS, dan perjuangannya untuk kembali ke Tanah Air, lepas dari stigma, serta bangkit menata hidupnya hingga meraih gelar sarjana.
“Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal kemanusiaan,” ujar Noor Huda. Baginya, sinema bukan hanya medium bercerita, tetapi juga alat untuk membongkar narasi dominan dan mengangkat suara-suara dari pinggiran.
FSK 2025 juga menyajikan program lintas budaya bertajuk Kita dan Kota: Surabaya Meets Australia, yang menghadirkan film-film dari dua perspektif negara, serta diskusi publik dan lokakarya yang memperkaya pengalaman sinematik pengunjung.
Produser film Road to Resilience, Ani Ema Susanti, mengungkapkan proses produksi film ini memakan waktu tujuh tahun, sejak repatriasi Febri dan keluarganya dari Suriah tahun 2017. “Film ini bukan hanya soal pulang, tapi soal bagaimana seseorang membangun kembali hidupnya dari titik nol,” ujar Ani, yang juga pernah meraih Piala Citra untuk Film Dokumenter Terbaik pada 2011.
Melalui sinema, Festival Sinema Kita 2025 membuktikan bahwa kota bukan hanya soal bangunan dan jalan raya—tetapi juga tentang manusia dan segala cerita di dalamnya. Di titik inilah, film menjadi jembatan: antara ruang dan rasa, antara perayaan dan perenungan.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News