Ekspor Pulp dan Kertas RI Tembus USD 8 Miliar, Jadi Andalan Industri Manufaktur

JAKARTA, 9 APRIL 2026 – VNNMedia – Industri pulp dan kertas nasional semakin menegaskan peran strategisnya sebagai penopang utama sektor manufaktur Indonesia. Sepanjang 2025, nilai ekspor gabungan pulp dan kertas mencapai sekitar USD 8,17 miliar, mencerminkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan data, ekspor pulp tercatat sebesar USD 3,60 miliar, sementara ekspor kertas mencapai USD 4,57 miliar. Sektor ini juga memberikan kontribusi 3,73% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, industri pulp dan kertas menjadi salah satu sektor bernilai tambah tinggi yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kontribusi terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja menunjukkan sektor ini sebagai pilar penting manufaktur nasional,” ujarnya.

Selain berkontribusi terhadap ekspor, industri ini juga menyerap lebih dari 280 ribu tenaga kerja langsung dan sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung, dengan total 113 perusahaan yang beroperasi.

Secara global, Indonesia menempati posisi ke-7 untuk industri pulp dan ke-6 untuk industri kertas. Di kawasan Asia, Indonesia bahkan berada di peringkat ke-2 untuk pulp dan ke-4 untuk kertas.

Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa industri ini memiliki daya ungkit tinggi karena menghasilkan berbagai produk, mulai dari pulp, kertas industri, tisu, hingga rayon yang digunakan di berbagai sektor.

Prospek industri ke depan dinilai masih sangat menjanjikan. Permintaan global terhadap kemasan berbasis kertas terus meningkat, didorong oleh sektor makanan dan minuman, fesyen, hingga e-commerce. Tren penggantian plastik ke bahan ramah lingkungan juga memperkuat permintaan produk kertas.

Saat ini, paperboard menguasai sekitar 31,8% pasar kemasan global, sementara pasar flexible packaging telah melampaui USD 270 miliar dan diproyeksikan tumbuh 5–6% per tahun hingga 2032.

Dari sisi bahan baku, industri dalam negeri mulai mengembangkan alternatif selain pulp konvensional, seperti serat pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, hingga kenaf, guna mendukung keberlanjutan dan efisiensi produksi.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti keterbatasan pasokan kertas daur ulang domestik, kebijakan impor bahan baku, hingga regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation serta hambatan non-tarif dari negara tujuan ekspor.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus memperkuat sektor ini melalui berbagai kebijakan, mulai dari perbaikan rantai pasok, inovasi bahan baku, penguatan industri hijau, hingga pemberian insentif fiskal dan nonfiskal.

Selain itu, penerapan standar nasional melalui Permenperin Nomor 6 Tahun 2025 tentang wajib SNI kertas dan karton untuk kemasan pangan juga diharapkan meningkatkan daya saing produk di pasar global.

Dari sisi promosi, partisipasi Indonesia sebagai partner country dalam ajang industri internasional INNOPROM 2026 di Rusia menjadi peluang untuk memperluas pasar ke kawasan Eurasia.

Dengan dukungan kebijakan dan tren pasar yang positif, industri pulp dan kertas Indonesia diproyeksikan terus tumbuh dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama di pasar global.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News