
SURABAYA, 15 SEPTEMBER 2025 – VNNMedia – Ekonomi syariah terus menunjukkan pertumbuhan pesat di tingkat global dan diyakini akan menjadi masa depan ekonomi Indonesia. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Regional Bank Indonesia, Muhammad Firdauz Muttaqin.
Menurut Firdauz, pesatnya pertumbuhan tersebut tidak lepas dari meningkatnya populasi muslim dunia yang kini telah mencapai lebih dari 2 miliar jiwa, serta semakin kuatnya tren gaya hidup halal. Salah satu indikatornya adalah konsumsi masyarakat muslim global yang mencapai USD2,43 triliun, mencerminkan potensi pasar yang sangat besar.
“Pertumbuhan ini juga didorong oleh inovasi produk dan sertifikasi halal yang kini lebih terintegrasi. Dengan jaminan halal yang semakin meluas, umat muslim bisa lebih mudah mendapatkan produk sesuai syariat di berbagai negara, sesuatu yang dulu sangat sulit ditemukan,” jelas Firdauz.
Di sektor keuangan, industri jasa keuangan syariah global juga mencatat perkembangan signifikan dengan nilai mencapai USD 3,88 triliun pada 2024. Dukungan lembaga internasional seperti Islamic Development Bank turut memperkuat tata kelola pembiayaan pembangunan dan integrasi pasar keuangan syariah dunia.
Indonesia sendiri memiliki posisi strategis dalam tren global ini karena 87% penduduknya beragama Islam, dengan lebih dari 60% berada di Pulau Jawa.
Ekosistem ekonomi syariah di Tanah Air juga semakin kuat berkat adanya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang beranggotakan lintas instansi, termasuk Bank Indonesia, serta diperkuat oleh Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) di berbagai wilayah.
Direktur Eksekutif KNEKS, Sholahudin Al Aiyub, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa ekonomi syariah adalah masa depan ekonomi Indonesia. Ia menyebut, Indonesia kini menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi syariah, khususnya pada bidang pariwisata halal dan sektor terkait.
Meski posisinya belum berubah dari tahun lalu, nilai capaian Indonesia terus meningkat dan mendekati Arab Saudi yang berada di posisi kedua.
“Dalam RPJMN 2029 ditargetkan Indonesia mampu menempati posisi pertama secara global di bidang ekonomi syariah. Pencapaian itu bukan sekadar angka, tetapi hasil kerja keras semua pihak yang terlibat,” ujar Sholahudin.
Ia menambahkan, jika sebelumnya perkembangan ekonomi syariah di Indonesia lebih banyak berjalan sporadis melalui inisiatif kementerian maupun lembaga, dalam lima tahun terakhir arah pengembangannya makin jelas berkat arahan Wakil Presiden melalui pleno KNEKS.
Lebih jauh, Sholahudin menekankan bahwa dasar gerakan ekonomi syariah adalah semangat Islam itu sendiri. “Islam bukan hanya ibadah ritual, melainkan juga way of life yang mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem ekonomi,” tegasnya.
Saat ini, ekonomi syariah sudah tercantum dalam dokumen perencanaan nasional, seperti RPJPN dan Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD). Artinya, setiap pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk mengintegrasikan ekonomi syariah ke dalam pembangunan wilayah.
Sholahudin menegaskan, keberhasilan ekonomi syariah hanya bisa dicapai jika dilakukan secara kolektif, dengan semangat kolaborasi dan saling menguatkan, layaknya sebuah bangunan yang kokoh karena setiap bagiannya saling menopang.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google NEws