
SURABAYA, 26 AGUSTUS 2025 – VNNMedia – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat, presentase penduduk miskin di Jawa Timur turun 9,50 persen per Maret 2025.
Kepala BPS Jatim, yang diwakilkan Kepala Bagian Umum Satriyo Wibowo dalam Siaran Berita Resmi Statistik (BRS) menyatakan, penurunan angka 9,50 persen tersebut merupakan hasil penurunan sebesar 0,06 persen poin dibandingkan September 2024 yang tercatat 9,56 persen.
“Jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 3,876 juta orang, menurun 17,94 ribu orang terhadap September 2024,” sebut Satriyo seperti dikutip dari kominfojatim, Senin (25/8/2025).
Secara perhitungan skala dekade, Satriyo menjelaskan, pada periode Maret 2015–Maret 2025, tingkat kemiskinan di Jawa Timur mengalami penurunan. Namun, penurunan itu mengalami perkecualian pada Maret 2015, Maret 2020, September 2020, dan September 2022.
“Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode Maret 2015 dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak,” jelasnya.
Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode Maret 2020 dan September 2020 disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.
“Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode September 2022 terjadi setelah adanya kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak,” terang Satriyo.
Dalam angka penurunan jumlah penduduk miskin dari September 2024 hingga Maret 2025 yang sebesar 17,94 ribu orang itu, Satriyo mengungkap, berdasarkan daerah tempat tinggal, selama periode itu pula jumlah penduduk miskin perkotaan meningkat sebesar 52,1 ribu orang. Sedangkan di perdesaan berkurang sebesar 70 ribu orang.
“Persentase kemiskinan di perkotaan meningkat dari 6,83 persen menjadi 7,00 persen. Sedangkan di perdesaan turun dari 13,19 persen menjadi 12,86 persen. Hal ini mencerminkan perbedaan kondisi kemiskinan antara wilayah kota dan desa,” ungkapnya.
Garis Kemiskinan Jatim September 2024 dan Maret 2025
Sebagaimana diketahui, bahwa garis kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan nonmakanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Sedangkan, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Pada Maret 2025, Satriyo menyebut, garis kemiskinan Jatim adalah sebesar Rp558.029 per kapita per bulan. Apabila dibandingkan September 2024, maka garis kemiskinan naik sebesar 1,88 persen.
Satriyo memaparkan, jika menyoroti komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), maka peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan.
“Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2025 sebesar 76,29 persen. Pada Maret 2025, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama,” paparnya.
Dirinya menilai, bahwa beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 23,47 persen di perkotaan dan 26,00 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (9,61 persen di perkotaan dan 8,76 persen di perdesaan).
Komoditi lainnya adalah telur ayam ras, daging ayam ras, Gula Pasir, Tempe, Tahu, Kue Basah dan seterusnya.
“Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, dan kesehatan,” sambung Satriyo.
Dengan begitu, bisa ditarik benang merah bahwa komoditas makanan masih mendominasi terutama beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, dan gula pasir.
Di sisi garis kemiskinan per rumah tangga yang merupakan gambaran besar dari nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak dikategorikan miskin.
Satriyo mengatakan, secara rata-rata, garis kemiskinan per rumah tangga pada Maret 2025 adalah sebesar Rp2.366.043 per bulan atau naik sebesar 1,16 persen dibanding kondisi Maret 2024 yang sebesar Rp2.338.897 bulan.
Foto : Ist
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News