
JAKARTA, 23 JANUARI 2026 – VNNMedia – Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire menuntut pendekatan arsitektur yang tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga ketahanan terhadap bencana.
Dalam diskusi arsitektur terkini yang melibatkan Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ar. Georgius Budi Yulianto dan Juri Panelis ASEAN Steel Architectural Awards 2026, Ar. Firman Setia Herwanto, material baja dinilai memegang peran strategis dalam mitigasi gempa sekaligus pelestarian nilai budaya.
Ar. Georgius Budi Yulianto mencontohkan praktik konstruksi di wilayah Sumatra, di mana penggunaan material metal, khususnya untuk atap, lebih dominan dibandingkan genteng. Menurutnya, material ringan seperti baja lebih aman saat gempa karena meminimalkan risiko cedera akibat runtuhan.
“Material ringan memiliki risiko yang lebih kecil saat terjadi gempa. Ini bagian dari pendekatan mitigasi bencana yang perlu dipahami dalam arsitektur Indonesia,” ujarnya.
Baja dinilai unggul karena sifatnya yang ringan, fleksibel, dan modular. Karakter ini memungkinkan bangunan beradaptasi lebih baik terhadap guncangan. Selain itu, sistem knockdown berbasis baja juga mendukung pembangunan cepat fasilitas darurat seperti rumah sakit, sekolah, dan rumah ibadah, tanpa mengorbankan kekuatan struktur.
Di sisi lain, penggunaan baja tidak serta-merta menghilangkan identitas arsitektur tradisional. Ar. Firman Setia Herwanto menegaskan bahwa arsitektur kontemporer justru semakin menempatkan warisan budaya sebagai filosofi desain.
“Rumah adat seperti Rumah Gadang dan Toraja sudah menerapkan prinsip fleksibilitas melalui sistem pasak tanpa paku. Prinsip ini sangat sejalan dengan teknologi baja modern yang presisi dan ramah gempa,” jelasnya.
Pendekatan ini membuka peluang adaptive reuse bangunan heritage, sehingga bangunan lama tetap fungsional dan relevan tanpa kehilangan karakter aslinya.
Komitmen pengembangan arsitektur baja juga diperkuat melalui Simposium 2025 bertajuk ‘Shaping Resilient Futures: Heritage & Modernity in Steel Architectural Design’ yang digelar bersama BlueScope Indonesia. Forum ini menjadi ajang pertukaran gagasan sekaligus persiapan menuju Steel Architectural Awards ASEAN 2026.
IAI mendukung penuh ajang bertema “Shaping Resilient Futures: Timeless Design with Coated Steel” tersebut sebagai tolok ukur kualitas arsitektur regional. Kompetisi ini diharapkan mendorong arsitek Indonesia tampil sejajar, bahkan unggul, dibandingkan negara ASEAN lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
“Arsitek Indonesia punya talenta dan kekayaan desain yang luar biasa. Kita ingin mereka bukan sekadar penonton, tetapi menjadi pemain utama di level internasional,” tegas Ar. Bugar.
Dengan mengedepankan resiliensi, inovasi, dan keberlanjutan, pemanfaatan baja menandai arah baru arsitektur Indonesia—bangunan yang tidak hanya estetis, tetapi juga mampu melindungi penghuninya serta bercerita tentang identitas dan masa depan.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News