Tarif Nol untuk 1.819 Produk RI, Negosiasi Dagang RI–AS Masuki Babak Baru

WASHINGTON DC, 22 FEBRUARI 2026 – VNNMedia – Perundingan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat menghasilkan kesepahaman baru yang membuka akses tarif nol persen bagi ribuan produk ekspor Indonesia, di tengah dinamika kebijakan tarif dan putusan hukum di Amerika Serikat.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pembahasan perdagangan kedua negara telah berlangsung cukup lama hingga mencapai titik temu. Hal itu disampaikan Prabowo kepada wartawan di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (22/2/2026).

“Kita bahas masalah perdagangan di antara dua negara. Perundingan sudah cukup lama, artinya ketemu saling menguntungkan, saling menghormati,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, proses negosiasi tarif tidak berjalan singkat dan penuh dinamika. Namun, hasil yang dicapai dinilai tetap memberikan ruang keuntungan bagi Indonesia, termasuk di tengah perkembangan terbaru menyusul putusan Supreme Court of the United States terkait kebijakan tarif.

“Kita siap menghadapi semua kemungkinan. Kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat, kita lihat perkembangannya,” tegas Prabowo.

Menanggapi tarif sementara sebesar 10 persen yang diterapkan Amerika Serikat, Prabowo menyebut kebijakan tersebut masih dapat diantisipasi. “Saya kira menguntungkan. Kita siap untuk menghadapi segala kemungkinan,” katanya.

Selain perdagangan, Prabowo juga mengungkapkan sinyal positif dari kalangan investor global. Dalam pertemuannya dengan sejumlah pimpinan perusahaan investasi internasional, ia menangkap meningkatnya minat dan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Mereka sangat tertarik dengan Indonesia, mereka confident, melihat iklim terus membaik dan positif terhadap ekonomi kita,” ujarnya.

Dari sisi teknis, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kesepakatan agreement on reciprocal trade (ART) mencakup 1.819 pos tarif produk Indonesia yang mendapatkan tarif nol persen.

“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri. Antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang yang tarifnya nol persen,” ujar Airlangga di Washington DC, Kamis (19/2/2026).

Untuk sektor tekstil dan garmen, Amerika Serikat juga memberikan fasilitas tarif nol persen melalui skema tariff rate quota (TRQ). Airlangga menyebut kebijakan ini berdampak langsung pada sekitar empat juta tenaga kerja di sektor tersebut, serta memengaruhi kehidupan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia jika dihitung bersama keluarganya.

Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Indonesia juga memberikan tarif nol persen bagi sejumlah produk utama asal Amerika Serikat, terutama komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. Menurut Airlangga, kebijakan ini memastikan masyarakat tidak terbebani biaya tambahan untuk bahan baku impor.

“Masyarakat Indonesia membayar nol persen untuk produk berbahan soyabean dan wheat, baik dalam bentuk mi, tahu, maupun tempe. Jadi tidak ada tambahan beban biaya,” jelasnya.

Di tingkat multilateral, kedua negara sepakat tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik, sejalan dengan posisi bersama di forum World Trade Organization (WTO).

Indonesia juga mendorong pengaturan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai regulasi nasional, dengan penekanan pada perlindungan data konsumen.

Pemerintah juga menyiapkan penerapan strategic trade management untuk memastikan perdagangan berjalan aman dan tidak disalahgunakan di luar tujuan perdamaian. Perjanjian ini akan mulai berlaku 90 hari setelah seluruh proses hukum diselesaikan oleh kedua negara, termasuk konsultasi dengan DPR RI, dan dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan tertulis bersama.

“Perjanjian ini difokuskan murni pada kerja sama perdagangan. Amerika Serikat sepakat mencabut pasal-pasal non-ekonomi, sehingga ART benar-benar bicara perdagangan,” kata Airlangga.

Ia menambahkan, kesepakatan ini diarahkan untuk mendukung target jangka panjang pembangunan ekonomi Indonesia dan memperkuat hubungan dagang kedua negara di tengah ketidakpastian global.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News