Segera Bangun Rusun MBR di Atas Terminal Kota

SURABAYA, 26 JANUARI 2026 – VNNMedia – Segera Bangun Rusun MBR di Atas Terminal Kota

Oleh : Supandi Syahrul

Ketua Lembaga Kajian dan Advokasi Agraria (LEKVORI), Pengurus KADIN Jawa Timur, Pengurus DPD REI Jawa Timur

Data Pemerintah Kota menunjukkan jumlah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Surabaya mencapai sekitar 1,08 juta jiwa atau setara dengan sekitar 300 ribu kepala keluarga. Sementara itu, backlog perumahan Surabaya diperkirakan 88.000–90.000 unit.

Artinya, puluhan ribu keluarga masih kesulitan mengakses hunian layak di dalam kota. Di sisi lain, Surabaya dikenal sebagai kota yang terus bergerak maju. Transportasi publik dibenahi, layanan publik makin meningkat.

Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama: di mana para MBR Surabaya itu harus tinggal? Jika tidak ada terobosan, MBR akan terus terdorong ke pinggiran, bahkan keluar dari
Surabaya. Bukan karena mereka malas bekerja, tetapi karena harga rumah sudah tak terjangkau oleh warga MBR kota Surabaya.

Salah satu solusi yang masuk akal adalah membangun rumah susun (rusun) MBR di atas terminal-terminal bus milik Pemkot Surabaya.

Terminal tetap 100 persen aktif, bahkan mutunya ditingkatkan,
sementara ruang udaranya dimanfaatkan untuk hunian vertikal. Konsep ini dikenal sebagai On-site Transit Development (OTD).

Keunggulannya jelas: tidak perlu beli lahan baru, hunian dekat transportasi publik, biaya hidup pekerja turun, dan kota menjadi lebih efisien. Sebagai simulasi kebijakan yang realistis, ada tiga
terminal paling potensial.

Pertama, Terminal Joyoboyo. Terminal ini berada di pusat kota, terintegrasi dengan Bus Suroboyo dan feeder WiraWiri. Dengan luas emplasemen sekitar 3–4 hektare, Terminal Joyoboyo dapat menampung sekitar 1.000–1.200 unit rusun dalam 2 tower. Kawasan ini berpotensi tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi baru, sekaligus mengurangi kemacetan pusat kota.

Kemudian Terminal Bratang. Terminal ini terletak di kawasan padat Surabaya Timur. Dengan luas emplasemen sekitar 3 hektare, Terminal Bratang realistis untuk sekitar 1000 unit rusun dalam 2 tower.

Dampaknya bukan hanya hunian layak, tetapi penataan kawasan, peningkatan keamanan, dan penguatan ekonomi warga sekitar.

Lalu Terminal Tambak Osowilangun. Terminal di Surabaya Barat ini memiliki emplasemen lebih luas, yaitu sekitar 4–5 hektare dan cocok untuk sekitar 1.200–1.500 unit rusun dalam 3 tower. Terminal TOW ini
berpotensi menjadi simpul hunian–transportasi skala besar, menekan arus komuter dari luar kota.

Dari tiga terminal tersebut, Pemkot Surabaya bisa menghadirkan hunian baru sekitar 3.000–3.700 unit rusun. Ini setara dengan sekitar 4% backlog perumahan kota Surabaya, tanpa membeli tanah baru.

Jika skema ini diperluas ke terminal-terminal lain milik Pemkot Surabaya, dampaknya akan berlipat, tanpa membebani APBD untuk pembebasan lahan. Lebih penting lagi, hunian tersebut berada di simpul transportasi, sehingga langsung menekan biaya hidup pekerja dan mengurangi tekanan lalu lintas harian.

Inilah contoh solusi kota yang tidak hanya menambah rumah, tetapi juga memperbaiki cara kota bekerja.

Rusun MBR di atas terminal bukan hanya sekedar tempat tinggal. Ia akan memberi manfaat berlapis: Backlog berkurang, kemacetan turun, biaya hidup pekerja menurun, produktivitas kota meningkat,
kualitas hidup warga meningkat, dan aset Pemkot memberi nilai sosial nyata.

Konsep ini tentu tidak berhenti di terminal. Konsep serupa sangat mungkin diterapkan di stasiun-stasiun kereta api di dalam kota Surabaya, yang akan dibahas dalam tulisan berikutnya.

Rusun MBR di atas terminal kota bukan gagasan utopis. Terobosan ini rasional, terukur, dan sesuai karakter Surabaya sebagai kota pekerja. Tantangannya tinggal satu, Beranikah Wali Kota Surabaya memanfaatkan aset kota untuk keadilan sosial? Jika tidak, pembangunan Kota Pahlawan ini justru membiarkan -bahkan mendorong- Arek Suroboyo terusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News