Pemprov Jatim Dukung Riset Drone Jepang untuk Mitigasi dan Penanggulangan Bencana

SURABAYA, 20 JANUARI 2026 – VNNMedia – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap penelitian pengembangan sistem pesawat tanpa awak (drone) untuk mitigasi dan penanggulangan bencana.

Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono saat menerima audiensi Trajectory Co., Ltd. dan Chiba Institute of Science di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Senin (19/1/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Adhy Karyono menegaskan Pemprov Jatim mendukung Feasibility Study on Unmanned Aerial System (UAS) Line Operations for Disaster Prevention and Mitigation, yang bertujuan mengembangkan teknologi drone berakurasi tinggi untuk penanganan bencana.

Menurutnya, Jawa Timur merupakan wilayah rawan bencana karena berada di kawasan ring of fire, dengan risiko bencana hidrometeorologi yang meningkat terutama pada puncak musim hujan di bulan Januari.

“Jawa Timur termasuk wilayah berisiko tinggi. Karena itu, kami membutuhkan teknologi drone yang mampu mendukung penanggulangan bencana dengan respon cepat dan tingkat akurasi tinggi. Pemprov Jawa Timur sangat mendukung penelitian ini,” ujar Adhy.

Ia menambahkan, kolaborasi teknologi dengan Jepang bukanlah hal baru bagi Jawa Timur. Sebelumnya, Pemprov Jatim telah mengadopsi sistem incident command center dan mobile command center dalam koordinasi kebencanaan, yang juga terinspirasi dari praktik penanganan bencana di Jepang.

Melalui riset UAS Line, Adhy berharap kerja sama dan sinergi antara Pemprov Jatim dan Pemerintah Jepang semakin kuat, sekaligus memperkuat sistem penanganan bencana berbasis data dan teknologi.

“Kami selalu mendukung inovasi yang memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan berbasis data. Harapannya, teknologi ini bisa pertama kali diimplementasikan di Indonesia melalui Jawa Timur,” jelasnya.

Meski saat ini difokuskan untuk kepentingan kebencanaan, Adhy menyebut teknologi UAS Line ke depan berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari, seperti pengantaran barang hingga pemantauan kondisi wilayah dan lanskap di Jawa Timur.

Namun demikian, ia menegaskan tahap awal yang perlu diprioritaskan adalah penyusunan regulasi, termasuk aturan penggunaan, penentuan rute terbang, serta mekanisme implementasi drone dalam situasi kebencanaan.

Sementara itu, perwakilan Trajectory Co., Ltd., Kenji Koseki, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Pemprov Jawa Timur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Budi Luhur University (UBL) dalam penelitian ini.

Ia menjelaskan, di Jepang operasional drone telah berkembang pesat. Saat ini, jangkauan drone dapat mencapai hingga 40 kilometer dengan ketinggian terbang sekitar 150 meter dari permukaan tanah, bahkan bisa lebih tinggi dengan izin khusus.

“Di Jepang, drone sudah digunakan secara luas, tidak hanya untuk penanggulangan bencana tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari, seperti pengantaran obat bagi masyarakat lansia,” terang Kenji.

Menurutnya, Indonesia—khususnya Jawa Timur—memiliki potensi besar untuk mengembangkan teknologi serupa. “Yang terpenting saat ini adalah menyiapkan regulasi dan rute operasional drone, terutama untuk kebutuhan kebencanaan,” pungkasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News