
Surabaya, Jumat 16 Januari 2026 – VNNMedia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperkirakan adanya potensi angin kencang di wilayah Jawa Timur mulai 11 sampai 20 Januari 2026, khususnya Surabaya.
Prakirawan cuaca BMKG Juanda, Siska Anggraeni menjelaskan bahwa angin kencang tersebut disebabkan konvergensi di lapisan 3.000 kaki di keseluruhan wilayah Pulau Jawa, khususnya sekitar perairan dan pesisir utara Jawa Timur hingga Pulau Madura.
“Yang mana konvergensi tersebut salah satu dampaknya menyebabkan fenomena angin kencang dan meningkatkan pertumbuhan awan-awan hujan,” katanya Siska dihubungi melansir Kompas.com, Jumat (16/1/2026).
Peningkatan kecepatan angin di wilayah Jawa Timur (Jatim) diprakirakan antara 8-14 knot atau sekitar 16 hingga 28 kilometer per jam.
“Khususnya, ketika terjadi hujan yang terbentuk dari awan cumulonimbus (Cb) disertai petir, maka akan berpotensi meningkatkan kecepatan angin,” ujarnya.
Selain itu, memprakirakan juga adanya potensi angin puting beliung yang akan kembali terjadi, seperti halnya beberapa waktu lalu yang menerjang Bandara Juanda.
Menurutnya, pembentukan angin puting beliung ditandai dengan terbentuknya awan cumulonimbus dengan kolom yang berputar sampai ke permukaan tanah.
“Khususnya, ketika hujan yang berawan tebal seperti saat ini di mana memang rata-rata setiap hari dengan kondisi atmosfer yang labil dan konvektifnya memang sedang hingga tinggi, sehingga berpotensi menumbuhkan awan-awan Cb,” katanya.
Lebih lanjut kata SIska, ada pula potensi cuaca ekstrem lain seperti hujan sedang hingga lebat, banjir bandang, tanah longsor, serta hujan es. Hal tersebut, diakibatkan aktifnya angin monsun asia dan pola pertemuan angin (konvergensi) di atas wilayah Jatim, serta adanya gangguan atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) melintasi wilayah Jatim.
“Ditambah lagi, menghangatnya suhu muka laut di Selat Madura dan labilnya atmosfer lokal Jatim turut menjadi faktor pendukung cuaca ekstrem tersebut,” ujarnya.
Ia mengimbau kepada masyarakat selama menghadapi masa puncak musim penghujan perlu untuk lebih waspada terhadap potensi berbagai bencaga hidrometereologi, seperti banjir, bandang, tanah longsor atau angin kencang, puting beliung, hujan es.
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News