
Seoul, Minggu 03 Agustus 2025-VNNMedia- Pemerintah Korea Selatan diperkirakan akan menunda keputusannya mengenai apakah akan mengizinkan Google mengekspor data peta presisi tinggi ke luar negeri. Penundaan ini dilakukan menjelang pertemuan puncak (KTT) antara Korea Selatan dan Amerika Serikat
Melansir Yonhap, pada Februari lalu, Google mengajukan permohonan kepada National Geographic Information Institute (NGII) Korea Selatan untuk mendapatkan izin mentransfer data peta presisi tinggi dengan skala 1:5.000 ke pusat data mereka di luar negeri. Berdasarkan peraturan, keputusan seharusnya sudah keluar pada 11 Agustus setelah perpanjangan 60 hari. Namun, seorang pejabat menyatakan kemungkinan besar batas waktu tersebut akan diperpanjang lagi
“Mencapai kesimpulan sebelum KTT Korea-AS dapat memengaruhi agenda lain yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut,” kata pejabat tersebut
Isu ini telah menjadi perdebatan sengit di Korea Selatan, melibatkan masalah keamanan nasional, kedaulatan digital, dan perdagangan. Sementara Amerika Serikat menyebut isu ini sebagai hambatan non-tarif, kekhawatiran terbesar di pihak Korea Selatan adalah potensi terungkapnya lokasi pangkalan militer dan fasilitas sensitif lainnya jika data peta presisi tinggi tersebut diekspor
Permintaan Google ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, permintaan serupa pada tahun 2007 dan 2016 ditolak oleh Seoul dengan alasan keamanan. Namun, kali ini Google menunjukkan kesediaannya untuk mengaburkan situs-situs sensitif dan bahkan meminta data koordinat untuk fasilitas keamanan, yang justru menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan komunitas keamanan pemerintah
Keputusan mengenai ekspor data peta ini akan ditentukan oleh panel peninjau yang terdiri dari berbagai kementerian, termasuk pertahanan, urusan luar negeri, dan Badan Intelijen Nasional
Saat ini, Google hanya bisa menggunakan data publik berskala rendah, sehingga layanan petanya di Korea Selatan dianggap kurang akurat dibandingkan dengan penyedia lokal. Isu ini kemungkinan besar akan menjadi salah satu topik pembahasan utama dalam pertemuan puncak antara Presiden Lee Jae Myung dan Presiden AS Donald Trump mendatang
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News