
JAKARTA, 11 AGUSTUS 2025 – VNNMedia – Sekitar 86,3 juta penduduk Indonesia berusia 45 tahun ke atas berisiko mengalami presbiopia atau mata tua, yaitu penurunan kemampuan lensa mata untuk fokus pada jarak dekat. Kondisi ini sering diatasi dengan kacamata, namun penggunaan alat bantu tersebut kadang menghambat aktivitas dan menurunkan kualitas hidup.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, JEC Eye Hospitals and Clinics memperkenalkan prosedur Refractive Lens Exchange (RLE), teknik penggantian lensa mata alami dengan lensa tanam (intraokular lens/IOL) yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan ketergantungan pada kacamata atau lensa kontak.
Prosedur ini diperkuat teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang presisi tinggi, minim risiko, dan mempercepat pemulihan.
Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), Dokter Subspesialis Katarak, Lensa, dan Bedah Refraktif JEC sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC @ Bekasi, mengungkapkan prevalensi presbiopia global terus meningkat, seiring bertambahnya usia harapan hidup dan tingginya penggunaan perangkat digital.
“Di usia 45 tahun ke atas, banyak orang berada di puncak produktivitas atau menikmati masa emas bersama keluarga. Presbiopia bukan hanya membatasi aktivitas, tapi juga berdampak psikologis dan ekonomi,” ujarnya.
Data menunjukkan 83 persen orang usia 45 tahun ke atas mengalami presbiopia. Tanpa penanganan, penderita dua kali lebih sulit melakukan pekerjaan jarak dekat, bahkan delapan kali lebih sulit untuk tugas detail.
Sekitar 12 persen memerlukan bantuan orang lain, yang dapat memicu stres dan menurunkan kepercayaan diri.
Gejala umum presbiopia antara lain sulit membaca teks dekat, kebiasaan menjauhkan objek agar lebih jelas, mata cepat lelah, sakit kepala, dan kebutuhan pencahayaan lebih terang. Gejala biasanya muncul di usia 40-an dan semakin terasa setelah 45 tahun.
Dampak ekonominya juga signifikan. Studi global mencatat, kehilangan produktivitas akibat presbiopia yang tidak dikoreksi bisa mencapai USD 11 miliar pada kelompok usia 50 tahun ke bawah, dan USD 25,4 miliar pada usia 65 tahun ke bawah.
Menurut Dr. Nashrul, RLE cocok bagi pasien yang ingin solusi jangka panjang tanpa kacamata. Prosedur ini sekaligus dapat mengoreksi gangguan refraksi lain seperti miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Keberhasilan RLE mencapai 98,5 persen dengan tingkat kepuasan pasien 95 persen; empat dari lima pasien tidak lagi memerlukan kacamata.
Di JEC, RLE dengan teknologi FLACS hanya memerlukan 10–15 menit per mata, tergantung kondisi pasien. Layanan ini tersedia di RS Mata JEC Menteng, RS Mata JEC Kedoya, dan RS Mata JEC Orbita Makassar, sementara RLE konvensional tersedia di seluruh cabang JEC.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News
Mendobrak pandangan umum tersebut, JEC Eye Hospitals and Clinics memperkenalkan prosedur Refractive Lens Exchange (RLE) . RLE ini berupa penggantian lensa mata yang bertujuan mengurangi kebutuhan kacamata/lensa kontak.
Diperkuat teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang berpresisi tinggi dan minim risiko, prosedur RLE memungkinkan kalangan pasien presbiopia segera terbebas dari ketergantungan berkacamata atau menggunakan lensa kontak.
Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC @ Bekasi Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), mengatakan, prevalensi presbiopia secara global terus meningkat. Terutama seiring bertambahnya harapan hidup dan intensitas tuntutan penglihatan dekat di era modern, seperti penggunaan ponsel.
“Padahal kalangan 45 tahun ke atas biasanya mulai menjalani usia emas lantaran berada di puncak periode produktif, atau sedang menikmati masa senior bersama keluarga. Lebih dari sekadar membatasi aktivitas keseharian, presbiopia bisa berdampak secara psikologis, bahkan ekonomi,” ujar Nashrul.
Prevalensi presbiopia pada usia 45 tahun ke atas mencapai 83 persen.
Diestimasi, pada 2030 mendatang, sekitar 2,1 miliar orang.
Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa pasien presbiopia, baik di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah, mengalami penurunan kualitas hidup.
Presbiopia yang tidak terkoreksi mengakibatkan penderita dua kali lebih sulit melakukan tugas-tugas yang membutuhkan penglihatan jarak dekat.
Kesulitan ini meningkat hingga delapan kali lipat untuk tugas penglihatan jarak dekat yang sangat intens. Lebih-lebih, 12 persen pasien presbiopia memerlukan bantuan dalam menjalankan tugas rutin, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan mental dan penurunan harga diri.
Presbiopia memiliki gejala khas yang mudah dikenali dalam keseharian, antara lain kesulitan melihat objek atau tulisan pada jarak dekat. Secara naluriah, penderitanya akan menjauhkan objek tersebut agar dapat terlihat/terbaca dengan lebih jelas.
Kondisi ini sering disertai dengan gejala sekunder berupa kelelahan mata, sakit kepala setelah membaca atau melakukan pekerjaan detail dengan fokus pandangan jarak dekat (seperti memasukkan benang ke jarum atau membaca label barang berhuruf kecil).
Presbiopia juga membuat penderita membutuhkan pencahayaan yang lebih terang saat membaca.
Gejala-gejala ini umumnya mulai muncul secara bertahap pada usia 40-an dan menjadi semakin nyata setelah usia 45 tahun, sejalan dengan proses penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang merupakan bagian alami dari proses penuaan.
Dari sisi dampak ekonomi, studi yang mengkaji beban global hilangnya
produktivitas akibat presbiopia yang tidak dikoreksi menemukan, di antara individu berusia 50 tahun ke bawah, terdapat potensi hilangnya produktivitas terkait sebesar USD 11 miliar. Pada mereka yang berusia 65 tahun ke bawah yang merupakan presbiopia yang tidak diobati, potensi hilangnya produktivitas diperkirakan sebesar USD 25,4 miliar jika semuanya diasumsikan produktif.
“RLE menjadi prosedur ideal bagi mereka yang tidak nyaman mengenakan kacamata dan menginginkan solusi jangka panjang,” papar Dr. Nashrul Ihsan.
RLE merupakan prosedur penggantian lensa alami mata yang sudah tidak berfungsi optimal dengan lensa tanam (intraokular lens/IOL). Keandalan prosedur RLE tak hanya efektif untuk mengoreksi presbiopia, tetapi juga gangguan refraksi lainnya, seperti mata minus (miopia), mata plus (hipermetropia), dan silinder (astigmatisme) – semuanya dalam satu tindakan.
Ia menambahkan, RLE sangat direkomendasikan untuk pasien yang mengalami perubahan penglihatan akibat proses penuaan. Bukan itu saja, RLE juga menjadi satu-satunya pilihan dalam kasus-kasus khusus yang sudah tak tertangani LASIK atau SMILE Pro. Misalnya, penderita miopia ekstrem dengan kondisi minus 20.
Keunggulan lain RLE, dari tingkat keberhasilan tindakan, rasionya mencapai 98,5 persen. Risiko 1,5 persen komplikasi operasi biasanya bisa dikoreksi dengan operasi lanjutan.
Dari sisi pasien, 95 persen mengaku puas dengan hasil tindakan dan berpendapat RLE telah mengubah hidup mereka. Selain itu, 4 dari 5 pasien juga sudah tidak lagi membutuhkan kacamata setelah mendapatkan prosedur RLE.
Penerapan prosedur RLE di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics diperkuat teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang berpresisi tinggi dan minim risiko, dengan waktu pemulihan yang lebih cepat.
Tergantung kondisi masing-masing pasien, waktu tindakan RLE berbasis FLACS cenderung cukup singkat. Berkisar 10-15 menit per mata.
Saat ini, layanan RLE dengan FLACS telah tersedia di RS Mata JEC Menteng, RS Mata JEC Kedoya dan RS Mata JEC Orbita Makassar. Sedangkan prosedur RLE bisa didapatkan di seluruh cabang JEC.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News